Di
era yang serba digital seperti sekarang ini, banyak informasi yang berseliweran dari berbagai penjuru media
yang dengan mudahnya dapat diakses oleh siapapun. Atas nama kebebasan
menyampaikan pendapat penulis dengan mudahnya meramaikan jagat media sosial
dengan beraneka ragam motif. Dari yang menyejukan hingga yang dapat memerahkan telinga
pemegang kuasa. Semua tulisan dapat dengan bebas menghujani dengan derasnya
jagat media sosial tanpa control baik secara sosial maupun secara hukum.
Disetiap
tulisan yang terbit dan terhubung keseluruh perangkat lunak dan menyebar ke seluruh
penjuru dunia melalui berbagai bentuk media, memiliki tujuan yang umum dikenal
dengan “the author purpose”. Bahkan
tulisan yang akan Anda baca ini, pasti meliki tujuan. Tinggal apakah anda
tergolong ke dalam the critical reader atau the really, really emotional reader.
The critical reader
adalah pembaca yang tidak lantas percaya dengan informasi yang ia baca. Pembaca
dengan tipe ini, setelah melakukan analisis diksi dan hubungannya dengan
subtansi atau isi yang ingin disampaikan kemudian ia segera mencari informasi
tentang penulis, background penulis, dan juga pekerjaan penulis. Sampai ia
merasa yakin bahwa tulisan tersebut dianggap wajar dan relatif obyektif tanda
adanya pretensi yang membabituda dan kental dengan subyektivitas.
The really, really emotional reader adalah
pembaca yang dengan cepatnya mengambil kesimpulan terhadap apa yang ia baca.
Jangankan ia sempat melakukan kroscek terlebih dahulu terhadap diksi dan
hubungannya dengan subtansi yang disampaikan, bahkan dengan hanya membaca judul
dengan bangganya ia membagikan informasi tersebut kepada khalayak lain. Karena
ia merasa informasi tersebut valid
dan harus diketahui orang banyak.
Kepolisian Republik Indonesia telah menerbitkan Surat Edaran Kapolri Nomor: SE/6/X/2015 tentang penanganan ujaran kebencian (Hate Speech). Bentuk-bentuk ujaran kebencian yang
dimaksud pada Surat Edaran Hate Speech ini
dapat berupa: 1). Penghinaan; 2). Pencemaran nama baik; 3). Penistaan;
4). Perbuatan tidak menyenangkan; 5). Memprovokasi;
6). Menghasut,
dan 7). Penyebaran
berita bohong. Dan tindakan yang
dimaksud memiliki tujuan atau
bisa berdampak pada tindak diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa,
dan/atau konflik sosial.
Untuk
menghindari dari respon yang berlebihan atas apa yang dibaca pada media sosial,
ada baiknya mengetahui 6 poin tujuan seseorang membubuhkan tulisanya, yaitu:
1. To entertain you
1. To entertain you
Tujuan
penulis pada poin pertama ini adalah untuk menghibur para pembaca sehingga
mereka merasa nyaman dan ingin terus membaca terhadap apa yang dituliskan oleh
penulis. Tulisan ini umumnya berbentuk narasi yang artinya berita ini tidak
benar-benar terjadi. Tulisan seperti ini dapat kita jumpai pada tulisan
berbentuk fiksi sejarah.
2. To inform you
2. To inform you
Pada
poin kedua ini, penulis ingin memberikan informasi kepada pembaca tanpa ada
pengharapan feedback apapun. Karena
penulis secara sukarela ingin menginformasikan kepada pembaca, baik yang
membutuhkan maupun yang tidak membutuhkan. Tulisan ini berbentuk deskriptif,
rijit, dan detail.
3. To persuade you
3. To persuade you
Tujuan
penulis pada poin ini adalah agar pembaca dapat terpengaruh terhadap apa yang
dinformasikan kepada mereka. Penulis mengharapkan feedback yang berbentuk
reaksi terhadap informasi. Hal ini umumnya memiliki motif ekonomi.
4. To teach you
4. To teach you
Tujuan
penulis pada poin ini adalah agar pembaca mengambil pelajararn terhadap
informasi yang disampaikan. Benutk informasi ini umumnya berbentuk artikel,
cerita non-fiksi, dan panduan cara melakukan sesuatu.
5. To scare you
5. To scare you
Tujuan
penulis pada poin ini adalah untuk menakut-nakuti pembaca terhadap informasi
yang probabilitasnya masih jauh unutk terjadi, namun dengan memberikan
informasi-informasi yang mencekam, membuat pembaca merasa khawatir.
6. To emotionally touch you
6. To emotionally touch you
Tujuan
penulis pada poin ini adalah untuk membuat pembaca merasa tersentuh, namun
umumnya pada media sosial poin ini bertujuan mendapatkan banyak like dari
pembaca yang kemudian penulis akan memanfaatkannya untuk kepentingan ekonomi.
Dari
keseluruahan poin yang telah disampaikan, nyaris tidak ada satu tulisanpun yang
bebas dari motif penulis. Di era digital sekarang ini, motif citation dan view merupakan menjadi motif utama dalam sebuah tulisan. Semakin
banyaka citasi dan view atas tulisan yang penulis buat, semakin dikjaya dan
harumlah nama penulis dan institusi tempat penulis bekerja.
Demikianlah,
semoga kita bisa menjadi pembaca yang cerdas sehingga dapat mengelola informasi
menjadi kekuatan untuk membangun negara ini kearah yang lebih baik.