Kejenuhan yang
membuatnya serasa bagaikan berada di dalam ruang 1x1 meter, suatu ketika memenjarakan
Salman
yang sedang menjalankan aktivitas pekerjaanya sebagai seorang manager pelatihan di sebuah lembaga
konsultan yang bertugas menyelenggarakan pelatihan di seluruh Indonesia dan
juga melaksanakan tugas mengajar sebagai seorang Dosen. Rasa syukurnya kepada
penggenggam kehidupan ini senantiasa ia panjatkan. Karena
ia
dianugerahi
kemampuan dalam mengelola hal-hal yang negatif menjadi sebuah
cipta karsa berupa karya. Kejenuhan yang senantiasa menghampiri
seluruh sendi kehidupan manusia dalam menapaki kehidupan tersebut diserap
oleh tangan Salman melalui keyboard laptop
Lenovo Z460 yang nangkring di atas
meja kerjanya. Serapan itu menghasilkan sebuah zoom in masa
lalu yang cukup menggelitik untuk disimak.
Dikarenakan kesibukannya,
serapan-serapan tersebut seringkali terabaikan dan
terendap diantara aneka macam folder yang tersimpan dalam flashdisk Philips 8 gigabyte miliknya. Suatu ketika ketika ia sedang membuka-buka tumpukan folder pada flasdish tersebut, secara tidak sengaja file yang sudah terlalu lama terabaikan tersebut ia temukan.
Penemuan secara tidak sengaja itu memicu keingintahuan
untuk terus membuka dan membaca isi dari file
yang tertumpuk dan berpadu dengan file
laninya. Keitka ia terus membaca dan
berusaha untuk mencermati sebua deskripsi serapan yang sudah menjadi konsep
kasar tentang sebuah cerita. Sambil tersenyum-senyum ia membacanya dan
bertanya dalam hati “Tulisan siapa ini?, renyah juga dibacanya”. “Mungkinkah ini
tulisan saya?” Awalnya ia tidak mempercayai jika itu
tulisannya. Namun pada akhirnya ia menyadari bahwa, “Yes, this is mine.”
Folder yang berisi tentang
kisah masa kecilnya yang begitu berwana tersebut membuat
ia
tertarik untuk mengembangkannya menjadi sebuah tutur yang komplit dengan
balutan cerita yang crispy agar dapat dinikmati menjadi sebuah kudapan yang bergizi. Dengan
waktu yang harus dibaginya antara menjadi seorang dosen dan manajer pelatihan, ia terus menyempatkan
dirinya bertutur melalui tulisan tersebut yang kemudian Ia beri judul Schemata.
Mengapa ia memberi judul seprti itu? Jawabnya adalah karena isi cerita pada
novel ini merupakan serapan masa lalu Salman yang cukup cruchy dan bisa menjadi sebuah inspirasi para muda yang masih ragu
untuk melangkah ke jenjang pernikahan dikarenakan alasan ekonomi.
Menikah yang secara fakta
memang membutuhkan persiapan—mental, spiritual, dan materi— dan sering kali
menjadi momok bagi hampir seluruh orang. Mereka lebih suka
mempersiapkan diri dengan standar materi yaitu rumah, kendaraan, dan kemapanan
karir. Setelah menjadi sempurna, setelah itu baru mereka menikah.
Salman mencoba melakukan dialektika pemahaman tentang hal tersebut dalam tutur
yang sederhana namun penuh inspirasi.
Menurutnya mencari pasangan
yang sempurna itu sia-sia. Hal itu justru bisa menjadi
pemicu seseorang untuk meninggalkan pasangan terbaik yang sebenarnya
sudah mereka punya, dan hal tersebut juga membuat mereka
menyesal pada akhirnya.
Salman juga berharap novel ini dapat
menjadi khazanah dan referensi banyak orang dalam mengarungi
kehidupan pasca mereka memutuskan untuk menikah ditengah pondasi materi yang
belum terbentuk. Karena menurutnya yang terpenting dalam pernikahan
adalah kematangan sikap dalam menghadapi setiap permasalahan yang pasti
datang bukan hanya dalam pernikahan namun di seluruh
aspek kehidupan manusia.