Senin, 05 September 2016

Kata Pengantar



Kejenuhan yang membuatnya serasa bagaikan berada di dalam ruang 1x1 meter, suatu ketika memenjarakan Salman yang sedang menjalankan aktivitas pekerjaanya sebagai seorang manager pelatihan di sebuah lembaga konsultan yang bertugas menyelenggarakan pelatihan di seluruh Indonesia dan juga melaksanakan tugas mengajar sebagai seorang Dosen. Rasa syukurnya kepada penggenggam kehidupan ini senantiasa ia panjatkan. Karena ia dianugerahi kemampuan dalam mengelola hal-hal yang negatif menjadi sebuah cipta karsa berupa karya. Kejenuhan yang senantiasa menghampiri seluruh sendi kehidupan manusia dalam menapaki kehidupan tersebut diserap oleh tangan Salman melalui keyboard laptop Lenovo Z460 yang nangkring di atas meja kerjanya. Serapan itu menghasilkan sebuah zoom in masa lalu yang cukup menggelitik untuk disimak.
                Dikarenakan kesibukannya, serapan-serapan tersebut seringkali terabaikan dan terendap diantara aneka macam folder yang tersimpan dalam flashdisk Philips 8 gigabyte miliknya. Suatu ketika  ketika ia sedang membuka-buka tumpukan folder pada flasdish tersebut, secara tidak sengaja file yang sudah terlalu lama terabaikan tersebut ia temukan. Penemuan secara tidak sengaja itu memicu keingintahuan untuk terus membuka dan membaca isi dari file yang tertumpuk dan berpadu dengan file laninya.  Keitka ia terus membaca dan berusaha untuk mencermati sebua deskripsi serapan yang sudah menjadi konsep kasar tentang sebuah cerita. Sambil tersenyum-senyum ia membacanya dan bertanya dalam hati “Tulisan siapa ini?, renyah juga dibacanya”. Mungkinkah ini tulisan saya?” Awalnya ia tidak mempercayai jika itu tulisannya. Namun pada akhirnya ia menyadari bahwa, “Yes, this is mine.”
                Folder yang berisi tentang kisah masa kecilnya yang begitu berwana tersebut membuat ia tertarik untuk mengembangkannya menjadi sebuah tutur yang komplit dengan balutan cerita yang crispy agar dapat dinikmati menjadi sebuah kudapan yang bergizi. Dengan waktu yang harus dibaginya antara menjadi seorang dosen dan manajer pelatihan, ia terus menyempatkan dirinya bertutur melalui tulisan tersebut yang kemudian Ia beri judul Schemata. Mengapa ia memberi judul seprti itu? Jawabnya adalah karena isi cerita pada novel ini merupakan serapan masa lalu Salman yang cukup cruchy dan bisa menjadi sebuah inspirasi para muda yang masih ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan dikarenakan alasan ekonomi.
                Menikah yang secara fakta memang membutuhkan persiapanmental, spiritual, dan materi dan sering kali menjadi momok bagi hampir seluruh orang. Mereka lebih suka mempersiapkan diri dengan standar materi yaitu rumah, kendaraan, dan kemapanan karir. Setelah menjadi sempurna, setelah itu baru mereka menikah. Salman mencoba melakukan dialektika pemahaman tentang hal tersebut dalam tutur yang sederhana namun penuh inspirasi.
                Menurutnya mencari pasangan yang sempurna itu sia-sia. Hal itu justru bisa menjadi pemicu seseorang untuk meninggalkan pasangan terbaik yang sebenarnya sudah mereka punya, dan hal tersebut juga membuat mereka menyesal pada akhirnya.
                Salman juga berharap novel ini dapat menjadi khazanah dan referensi banyak orang dalam mengarungi kehidupan pasca mereka memutuskan untuk menikah ditengah pondasi materi yang belum terbentuk. Karena menurutnya yang terpenting dalam pernikahan adalah kematangan sikap dalam menghadapi setiap permasalahan yang pasti datang bukan hanya dalam pernikahan namun di seluruh aspek kehidupan manusia.