Tuhan Abstrak vs Tuhan Kongkrit
Jika ada yang bertanya tentang
kepercayaan seseorang akan esensi Tuhan kepada masyarakat Indonesia, maka
niscaya mereka akan menjawab percaya kepada adanya Tuhan. Namun jika
ditanya lagi tentang bagaimana cara mereka mendeskripsikan Tuhan, maka mereka
akan menjawab “Tuhan tidak dapat dideskripsikan dalam bentuk apapun apalagi dengan bentuk yang kongkrit”,
“namun esensi Tuhan dapat dilihat melalui hasil ciptaannya.” Dengan
demikian Tuhan merupakan sebuah esensi yang dipercayai melalui ciptaannya yang ada di jagad raya ini.
Bicara tentang Tuhan sebagai
kategori benda, maka tentunya Tuhan tidak akan bisa dimasukan kesalah-satunya. mungkin apabila dipaksakan untuk dikategorikan, mungkin Tuhan bisa masuk kedua-duanya yaitu benda kongkrit yang abstrak. Karena sifat Tuhan berbeda degan manusia yang tentunya masuk kategori benda kongrit.
Manusia sebagai benda kongrit
tentunya akan mencari dan merasa nyaman dengan kekongkritan. Karena teori dasar
menyatakan bahwa seseorang akan merasa nyaman dengan orang yang memiliki kesamaan pola (baik itu secara karakter maupun secara esensi). Artinya
karena manusia adalah benda kongrit, maka ia akan merasa nyaman dengan hal yang
kongkrit juga.
Konsep tentang kenyamanan (comfort) sangat sulit untuk didefinisikan
karena lebih merupakan penilaian responsif individu (Oborne, 1995). Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, nyaman adalah segar; sehat sedangkan kenyamanan
adalah keadaan nyaman; kesegaran; kesejukan. Kolcaba (2003) menjelaskan bahwa
kenyamaan sebagai suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang
bersifat individual dan holistik. Dengan terpenuhinya kenyamanan dapat
menyebakan perasaan sejahtera pada diri individu tersebut.
Kenyamanan dan perasaan nyaman
adalah penilaian komprehensif seseorang terhadap lingkungannya. Manusia menilai
kondisi lingkungan berdasarkan rangsangan yang masuk ke dalam dirinya melalui
keenam indera melalui syaraf dan dicerna oleh otak untuk dinilai. Dalam hal ini
yang terlibat tidak hanya masalah fisik biologis, namun juga perasaan. Suara,
cahaya, bau, suhu dan lain-lain rangsangan ditangkap sekaligus, lalu diolah oleh
otak. Kemudian otak akan memberikan penilaian relatif apakah kondisi itu nyaman
atau tidak. Ketidaknyamanan di satu faktor dapat ditutupi oleh faktor lain
(Satwiko, 2009).
Sanders
dan McCormick (1993) menggambarkan konsep kenyamanan bahwa kenyamanan merupakan
suatu kondisi perasaan dan sangat tergantung pada orang yang mengalami situasi
tersebut. Kita tidak dapat mengetahui tingkat kenyamanan yang dirasakan orang
lain secara langsung atau dengan observasi melainkan harus menanyakan langsung
pada orang tersebut mengenai seberapa nyaman diri mereka, biasanya dengan
menggunakan istilah-istilah seperti agak tidak nyaman, mengganggu, sangat tidak
nyaman, atau mengkhawatirkan.
Berdasarkan uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa kenyamanan adalah suatu kontinum perasaan dari paling nyaman
sampai dengan paling tidak nyaman yang dinilai berdasarkan persepsi
masing-masing individu pada suatu hal yang dimana nyaman pada individu tertentu
mungkin berbeda dengan individu lainnya.
Dalam hal ke-Tuhanan, nampaknya
manusia lebih tertarik ataupun lebih takut kepada Tuhan yang kongkrit
dibandingkan ketertarikan dan ketakutan mereka dengan Tuhan kongkrit yang
abstrak.
Seorang yang masing single yang telah bersungguh-sungguh bekerja karena
Tuhannya, akan berlipa kesunguhannya dari konsep
bersungguh-sungguh yang standar apabila orang yang ia cintai memberikan limit
untuk menikahinya. kekongkritannya bisa berupa sebuah kekhawatiran wanita pujaanya itu nantinya diambil orang lain.
Begitupun seorang wanita yang
telah sempurna menghias dirinya dengan make-up yang super mahal, akan amat bisa
menunda wudhunya (mungkin jika perlu bertanyamum saja) untuk melakukan sholat
wajib. Ketimbang ia harus merelakan dandanan sempurnya dengan mak-up mahalnya itu luntur akibat basuhan air
wudhu.
Partai-partai yang mengaku
mengusung Islam sebagai azas mereka, lebih takut kehilangan kursi pimpinan
mereka dibandingkan menegakan nilai kongkrit yang abstrak berupa kejuhudan
dunia untuk supermasi nilai yang lebih tinggi yaitu Tuhan.
Penomena ketertarikan dan
ketakutan manusia terhadap Tuhan yang lebih kongkrit (menurut mereka) merupakan
hal yang perlu disikapi dengan peningkatan pemahaman teologi manusia terhadap
Tuhan kongkrit yang abstrak. Sebab hal ini akan mereposisi pandangan manusia
tentang kehidupan mereka di dunia ini menjadi lebih baik kearah kemulyaan
Tuhan. (MAS)