Kamis, 09 Oktober 2014

Tuhan abstrak vs Tuhan kongkrit

Tuhan Abstrak vs Tuhan Kongkrit

Jika ada yang bertanya tentang kepercayaan seseorang akan esensi Tuhan kepada masyarakat Indonesia, maka niscaya mereka akan menjawab percaya kepada adanya Tuhan.  Namun jika ditanya lagi tentang bagaimana cara mereka mendeskripsikan Tuhan, maka mereka akan menjawab “Tuhan tidak dapat dideskripsikan dalam bentuk apapun apalagi dengan bentuk yang kongkrit”, “namun  esensi Tuhan dapat dilihat melalui hasil ciptaannya.”  Dengan demikian Tuhan merupakan sebuah esensi yang dipercayai melalui ciptaannya yang ada di jagad raya ini.

Bicara tentang Tuhan sebagai kategori  benda, maka tentunya Tuhan tidak akan bisa dimasukan kesalah-satunya. mungkin apabila dipaksakan untuk dikategorikan, mungkin Tuhan bisa masuk kedua-duanya yaitu benda kongkrit yang abstrak. Karena sifat Tuhan berbeda degan manusia yang tentunya masuk kategori benda kongrit.

Manusia sebagai benda kongrit tentunya akan mencari dan merasa nyaman dengan kekongkritan. Karena teori dasar menyatakan bahwa seseorang akan merasa nyaman dengan orang  yang memiliki kesamaan pola (baik itu secara karakter maupun secara esensi). Artinya karena manusia adalah benda kongrit, maka ia akan merasa nyaman dengan hal yang kongkrit juga.

Konsep tentang kenyamanan (comfort) sangat sulit untuk didefinisikan karena lebih merupakan penilaian responsif individu (Oborne, 1995). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nyaman adalah segar; sehat sedangkan kenyamanan adalah keadaan nyaman; kesegaran; kesejukan. Kolcaba (2003) menjelaskan bahwa kenyamaan sebagai suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang bersifat individual dan holistik. Dengan terpenuhinya kenyamanan dapat menyebakan perasaan sejahtera pada diri individu tersebut.

Kenyamanan dan perasaan nyaman adalah penilaian komprehensif seseorang terhadap lingkungannya. Manusia menilai kondisi lingkungan berdasarkan rangsangan yang masuk ke dalam dirinya melalui keenam indera melalui syaraf dan dicerna oleh otak untuk dinilai. Dalam hal ini yang terlibat tidak hanya masalah fisik biologis, namun juga perasaan. Suara, cahaya, bau, suhu dan lain-lain rangsangan ditangkap sekaligus, lalu diolah oleh otak. Kemudian otak akan memberikan penilaian relatif apakah kondisi itu nyaman atau tidak. Ketidaknyamanan di satu faktor dapat ditutupi oleh faktor lain (Satwiko, 2009).

Sanders dan McCormick (1993) menggambarkan konsep kenyamanan bahwa kenyamanan merupakan suatu kondisi perasaan dan sangat tergantung pada orang yang mengalami situasi tersebut. Kita tidak dapat mengetahui tingkat kenyamanan yang dirasakan orang lain secara langsung atau dengan observasi melainkan harus menanyakan langsung pada orang tersebut mengenai seberapa nyaman diri mereka, biasanya dengan menggunakan istilah-istilah seperti agak tidak nyaman, mengganggu, sangat tidak nyaman, atau mengkhawatirkan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kenyamanan adalah suatu kontinum perasaan dari paling nyaman sampai dengan paling tidak nyaman yang dinilai berdasarkan persepsi masing-masing individu pada suatu hal yang dimana nyaman pada individu tertentu mungkin berbeda dengan individu lainnya.
Dalam hal ke-Tuhanan, nampaknya manusia lebih tertarik ataupun lebih takut kepada Tuhan yang kongkrit dibandingkan ketertarikan dan ketakutan mereka dengan Tuhan kongkrit yang abstrak.

Seorang yang masing single yang telah bersungguh-sungguh bekerja karena Tuhannya, akan berlipa kesunguhannya dari konsep bersungguh-sungguh yang standar apabila orang yang ia cintai memberikan limit untuk menikahinya. kekongkritannya bisa berupa sebuah kekhawatiran wanita pujaanya itu nantinya diambil orang lain.

Begitupun seorang wanita yang telah sempurna menghias dirinya dengan make-up yang super mahal, akan amat bisa menunda wudhunya (mungkin jika perlu bertanyamum saja) untuk melakukan sholat wajib. Ketimbang ia harus merelakan dandanan sempurnya dengan mak-up mahalnya itu luntur akibat basuhan air wudhu.

Partai-partai yang mengaku mengusung Islam sebagai azas mereka, lebih takut kehilangan kursi pimpinan mereka dibandingkan menegakan nilai kongkrit yang abstrak berupa kejuhudan dunia untuk supermasi nilai yang lebih tinggi yaitu Tuhan.

Penomena ketertarikan dan ketakutan manusia terhadap Tuhan yang lebih kongkrit (menurut mereka) merupakan hal yang perlu disikapi dengan peningkatan pemahaman teologi manusia terhadap Tuhan kongkrit yang abstrak. Sebab hal ini akan mereposisi pandangan manusia tentang kehidupan mereka di dunia ini menjadi lebih baik kearah kemulyaan Tuhan. (MAS)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar