PRIUK
BASI PENUH MANFAAT
Oleh: M. Agus
Suriadi (MAS)
Memang tak akan ada yang dapat menyangkal tentang peran sebuah benda yang bernama
uang.
Kian lama ia semakin eksis dalam kehidupan.
Hal ini semata-mata karena kehidupan merawatnya dengan keuletan.
Karyawan pagi dan sore menjejali jalanan dengan
kemacetan demi uang
Bahkan karyawan di luar kota
memberikan slogan jam 4 atau terlambat, semua untuk uang.
Pegawai Negara mengakali aturan demi uang.
Pembuat aturan membahas aturan, dengan
uang.
Uang menjadi acuan kemajuan sebuah jaman.
Uang menjadi magnet perubahan sebuah sikap kehidupan.
Istri merasa senang dinafkahkan suami
dengan banyak uang.
Istri merasa bimbang mengurus
kehidupan dengan sedikit uang.
Sangkalah semuanya itu, mungkin penyangkal adalah pelupa akan kehidupan.
Sangkalah semuanya itu, mungkin sangkalan hanya agar terdengar bijak
bagi para konstituen.
Uang telah menjelma menjadi tujuan
berkehidupan.
Sementara nilai-nilai kian terpojok sebagai pemilik sah tujuan kehidupan.
Nilai-nilai teronggok lusuh tak berdaya berkalung sarang laba-laba di
pojokan.
Sesekali nilai dilirik untuk
menghiasai seremonial kefanaan.
Sesekali penggiat kefanaan menggunakanya
untuk sebuah urusan bernama kepentingan.
Namun nilai-nilai tidak berkecil hati, walaupun lusuh dan berkalung
sarang laba-laba, ia masih tetap ada peminatnya.
Para peminat yang tidak
menggunakannya sebagai pelengkap sebuah sermonial.
Para peminat yang tidak lelah untuk
terus membersihkan lusuh dan sarang laba-laba pada nilai-nilai.
Peminat membalikan uang sebagai tujuan, mereka hanya menghormatinya
sebagai sebuah keniscayaan.
Beragam macam jenis peminat, ada yang
bersuara lantang sebagai pengaku perwakilan penjaga gawang dari nilai-nilai, meskipun
yang diwakili merasa tidak terwakilkan.
Ada yang bersuara lembut namun penuh
kepastian, meskipun ia sering kali terabaikan.
Para peminat memang bukan penjaga gawang keimanan kehidupan lain, ia
hanyalah penjaga keimanan untuk diri dan handai taulan yang berkenan.
Nilai-nilai dititipkan kepada kehidupan pilihan untuk disampaikan guna menjadi sebuah keharusan sejak dilahirkan, walaupun terkadang penolakan sering kali tak kunjung padam
Namun nilai-nilai tidak berkenan untuk dipaksakan, karena sesungguhnya ia telah
bersarang di lubuk hati kehidupan sejak dihembuskan.
Nilai-nilai sejatinya akan menjadi pelabuhan terakhir kehidupan dengan jalan dan pola yang beragam.
Ia tak akan pernah bisa di nafikan dan terbantahkan, seperti halnya tujuan pana
kehidupan para yang sering kali teralfakan .