Rabu, 21 Januari 2015

PRIUK BASI


PRIUK BASI PENUH MANFAAT

Oleh: M. Agus Suriadi (MAS)


Memang tak akan ada yang dapat menyangkal tentang peran sebuah benda yang bernama uang.
Kian lama ia semakin eksis dalam kehidupan.
Hal ini semata-mata karena kehidupan merawatnya dengan keuletan.

Karyawan  pagi dan sore menjejali jalanan dengan kemacetan demi uang
Bahkan karyawan di luar kota memberikan slogan jam 4 atau terlambat, semua untuk uang.
Pegawai Negara mengakali aturan demi uang.
Pembuat aturan membahas aturan, dengan uang.

Uang menjadi acuan kemajuan sebuah jaman.
Uang menjadi magnet perubahan sebuah sikap kehidupan.

Istri merasa senang dinafkahkan suami dengan banyak uang.
Istri merasa bimbang mengurus kehidupan dengan sedikit uang.

Sangkalah semuanya itu, mungkin penyangkal adalah pelupa akan kehidupan.
Sangkalah semuanya itu, mungkin sangkalan hanya agar terdengar bijak bagi para konstituen.

Uang  telah menjelma menjadi tujuan berkehidupan.
Sementara nilai-nilai kian terpojok sebagai  pemilik sah tujuan kehidupan.
Nilai-nilai teronggok lusuh tak berdaya berkalung sarang laba-laba di pojokan.

Sesekali nilai dilirik untuk menghiasai seremonial kefanaan.
Sesekali penggiat kefanaan menggunakanya untuk sebuah urusan bernama kepentingan.

Namun nilai-nilai tidak berkecil hati, walaupun lusuh dan berkalung sarang laba-laba, ia masih tetap ada peminatnya.

Para peminat yang tidak menggunakannya sebagai pelengkap sebuah sermonial.
Para peminat yang tidak lelah untuk terus membersihkan lusuh dan sarang laba-laba pada nilai-nilai.

Peminat membalikan uang sebagai tujuan, mereka hanya menghormatinya sebagai sebuah keniscayaan.

Beragam macam jenis peminat, ada yang bersuara lantang sebagai pengaku perwakilan penjaga gawang dari nilai-nilai, meskipun yang diwakili merasa tidak terwakilkan.
Ada yang bersuara lembut namun penuh kepastian, meskipun ia sering kali terabaikan.

Para peminat memang bukan penjaga gawang keimanan kehidupan lain, ia hanyalah penjaga keimanan untuk diri dan handai taulan yang berkenan.
Nilai-nilai dititipkan kepada kehidupan pilihan untuk disampaikan guna menjadi sebuah keharusan sejak dilahirkan, walaupun terkadang penolakan sering kali tak kunjung padam
Namun nilai-nilai tidak berkenan untuk dipaksakan, karena sesungguhnya ia telah bersarang di lubuk hati kehidupan sejak dihembuskan.

Nilai-nilai sejatinya akan menjadi pelabuhan terakhir kehidupan dengan jalan dan pola yang beragam.
Ia tak akan pernah bisa di nafikan dan terbantahkan, seperti halnya tujuan pana kehidupan para yang sering kali teralfakan .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar