Kamis, 20 Oktober 2016

Tanda Dan Penanda

Tanda dan Penanda

Kasus Andrew Budi Kusuma, yang diduga dipukul setelah sebelumnya diteriaki mirip Ahok tidak terjadi secara  partial spontan oleh sebagian kecil masyarakat Jakarta,  namun hal tersebut merupakan buah investasi dari pengusa.

Penguasa yg sering kali disebut sebagai pemerintahan, -yang seharusnya memberikan suritauladan- atas nama konstitusi  malah berbalik menghakimi rakyat dan bertindak sesuka hati (Mungkin mumpung berkuasa).

Dalam kejadian tersebut ada asosiasi tanda antara sosok Andrew dan sosok Ahok. Dalam ilmu linguistik ilmu yang mengkaji tanda dalam kehidupan manusia disebut dengan semiotik.

Para pragmatis melihat tanda sebagai "sesuatu yang mewakili sesuatu". Yang  menarik adalah bahwa "sesuatu" itu dapat berupa hal yang konkret,  yang Kemudian,  melalui suatu proses,  mewakili "sesuatu" yang ada di dalam kognisi manusia.

Tiga tahun berkuasa merupakan sebuah proses kognisi masyarakat Jakarta yang Kemudian menjelma menjadi sebuah objek yang Kemudian dilengkapi dengan proses penafsiran.

Karena sifatnya yang mengkaitkan tiga segi,  -yaitu representamen,  objek,  dan intrepretan, - teori semiotik bersifat trikomotis

Bagaikan rak yang berisi piring,  gelas,  sendok,  mangkok, dan lain sebagainya, gesekan dan bunyi-bunyi lainnya tentu tidak bisa dihindari. Sebuah piring memiliki karakter tersendiri,  ada yg terbuat dari plastic,  polimer,  dan ada yang terbuat dari kaca,  masing -masing berbeda daya tahannya. begitu pula gelas, sendok,  mangkok dan seterusnya, semua berbeda.

Tugas pemilik rak adalah menggunakan alat -alat tersebut sesuai dengan karakternya. Dan menjaga agar tidak pecah atau rusak. Agar tidak sering membeli dan dapat menggunakan alokasi tersebut untuk keperluan yang lain.

Penulis tentu menyesali atas kejadian yang ada.  Dan meyakini bahwa perbuatan tersebut dilakukan oleh sebagian sangat kecil anggota masyarakat,  namun juga meyakini bawhwa hal tersebut merupakan buah dari investasi yang dilakukan penguasa.

Ada sebuah judul lagu dari sebuah group band ternama yang berjudul "what you give,  you get back " lagu tersebut juga sejalan dengan pepatah "siapa yang menyemai dia pasti yang akan menuai "

Walaupun masyarakat Jakarta dikategorikan ke dalam benda,  namun mengurus manusia tentunya sangat berbeda dengan mengurus benda lainnya.  Dia membutuhkan sebuah konsep kesopanan dan penghargaan. Konsep yang sering kali dikenal dengan sebutan "bidal (maxim) " oleh para ahli linguistik seperti Leech, merupakan bagian yang sangat kecil dari sebuah pendekatan.

Tegas dengan rakyat pinggir kali dan lemah lembut dengan pengembang merupakan sebuah "investasi" yang tampak dan sangat terekam  oleh anggota masyarakat.

Ketika banjir menempati beberapa wilayah Jakarta,  banyak kambing hitam yang ketakutan karena selalu dicari-cari oleh penguasa untuk dijadikan alas(an) oleh mereka agar dapat tidur nyenyak.

Janji-janji politik yang sudah terlanjur terucap, Bagaikan bendera pusaka yang  disimpan rapi oleh pendukung untuk Kemudian dibuatkan replika agar dapat dikibarkan.

Tidak Boleh lagi ada penghakiman oleh anggota masyarakat kepada anggota masyarakat yang lain. Karena para Hakim akan menganggur jika tugasnya diambil alih oleh masyarakat. Keputusan yang diambilpun akan berbeda.  The real Hakim memutuskan atas dasar keadilan,  Hakim masyarakat memutuskan atas dasar amarah dan kebencian.

Nilai Tak Perlu Dibela

Nilai Tak Perlu Dibela

Seberapa banyakpun Buzzer yang kalian kerahkan untuk menjegal sebuah Nilai niscaya kesia-sianlah  yang akan kalian dapatkan.

Tuhan Kami mengajarkan untuk tidak memaksakan sebuah Nilai walaupun itu diterima secara universal,  biarlah Nilai itu mengurus dirinya sendiri karena ia tak akan pernah bisa diganjal untuk alasan apapun

Kami diajarkan untuk mengurus yang menjadi tugas kami  sebagai manusia,  sisanya biarkan Tuhan mengurus yang menjadi bagian-Nya

Tak sanggup memikirkan jika peradaban ini dibangun dengan Hinaan,  cacian ,  dan mempermalukan orang .

Tidak sanggup membayangkan memiliki kesejahteraan dan keamanan hidup dibayangi dengan cacian dan umpatan

Ketika kalian bertikai tentang bentuk Bumi,  maka Nilai menjawabnya secara gamblang namun malah kalian penjarakan orang yang mendukung Nilai

Ketika kalian merasa hampa terhadap kehidupan yang serba hedonis, Kemudian nilai datang menghilangkan dahaga yang Kemudian kalian ingkari itu sebagai sebuah Nilai, namun Nilai tetap santai dan tidak membutuhkan buzzer untuk membela

Nilai sudah bersemayam ketika kalian dianugerahi kehidupan oleh Tuhan di alam rahim, nilaipun santai saja jika Kemudian kalian merupakan itu

Nilai itu sangatlah istimewa karena ia tidak diterima oleh hati yang penuh kebencian apalagi pendendam

Nilai hanya bisa dicerna oleh hati yang penuh kerendahan dan pemaaf

jadi jika seseorang masih diselimuti kebencian dan dendam,  rasanya tak layaklah ia membicarakanya

Mungkin yang ingin memaksa memperbincangkanya dapat menggunakan inisial atau isyarat seperti tokoh Veldemort yang diinisialkan menjadi "kau tau siapa" pada film Harry Potter.

Namun jika sulit juga menggunakan inisial karena kebencian yang sudah mendarah-daging ya.. Silahkan saja

Toh.. Nilai stay cool, santai tak perlu Pembela

Karena pada dasarnya Nilailah yang membela manusia baik yang mempercayai maupun mengingkari

Bayangkalah hidup tanpa Nilai,  apalah jadinya kehidupan itu

Namun, walaupun membela manusia, Nilai lagi-lagi tetap santai tak pamrih

Malah Selalu memberikan rewards kepada manusia yang ia Bela

Betapa Kerennya kau Nilai, secara demokrasi membiarkan manusia untuk memilih, baik yang lurus maupun sesat

Diantara manusia yang terbela Nilai, merasa berhutang untuk menolong

Lagi -lagi Nilaipun stay cool tak menyobong

Bagi para pembela ,  hal tersebut dilakukan karena  untuk sebuah bagian

Bagian manusia untuk berikhtiar

Senin, 05 September 2016

Kata Pengantar



Kejenuhan yang membuatnya serasa bagaikan berada di dalam ruang 1x1 meter, suatu ketika memenjarakan Salman yang sedang menjalankan aktivitas pekerjaanya sebagai seorang manager pelatihan di sebuah lembaga konsultan yang bertugas menyelenggarakan pelatihan di seluruh Indonesia dan juga melaksanakan tugas mengajar sebagai seorang Dosen. Rasa syukurnya kepada penggenggam kehidupan ini senantiasa ia panjatkan. Karena ia dianugerahi kemampuan dalam mengelola hal-hal yang negatif menjadi sebuah cipta karsa berupa karya. Kejenuhan yang senantiasa menghampiri seluruh sendi kehidupan manusia dalam menapaki kehidupan tersebut diserap oleh tangan Salman melalui keyboard laptop Lenovo Z460 yang nangkring di atas meja kerjanya. Serapan itu menghasilkan sebuah zoom in masa lalu yang cukup menggelitik untuk disimak.
                Dikarenakan kesibukannya, serapan-serapan tersebut seringkali terabaikan dan terendap diantara aneka macam folder yang tersimpan dalam flashdisk Philips 8 gigabyte miliknya. Suatu ketika  ketika ia sedang membuka-buka tumpukan folder pada flasdish tersebut, secara tidak sengaja file yang sudah terlalu lama terabaikan tersebut ia temukan. Penemuan secara tidak sengaja itu memicu keingintahuan untuk terus membuka dan membaca isi dari file yang tertumpuk dan berpadu dengan file laninya.  Keitka ia terus membaca dan berusaha untuk mencermati sebua deskripsi serapan yang sudah menjadi konsep kasar tentang sebuah cerita. Sambil tersenyum-senyum ia membacanya dan bertanya dalam hati “Tulisan siapa ini?, renyah juga dibacanya”. Mungkinkah ini tulisan saya?” Awalnya ia tidak mempercayai jika itu tulisannya. Namun pada akhirnya ia menyadari bahwa, “Yes, this is mine.”
                Folder yang berisi tentang kisah masa kecilnya yang begitu berwana tersebut membuat ia tertarik untuk mengembangkannya menjadi sebuah tutur yang komplit dengan balutan cerita yang crispy agar dapat dinikmati menjadi sebuah kudapan yang bergizi. Dengan waktu yang harus dibaginya antara menjadi seorang dosen dan manajer pelatihan, ia terus menyempatkan dirinya bertutur melalui tulisan tersebut yang kemudian Ia beri judul Schemata. Mengapa ia memberi judul seprti itu? Jawabnya adalah karena isi cerita pada novel ini merupakan serapan masa lalu Salman yang cukup cruchy dan bisa menjadi sebuah inspirasi para muda yang masih ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan dikarenakan alasan ekonomi.
                Menikah yang secara fakta memang membutuhkan persiapanmental, spiritual, dan materi dan sering kali menjadi momok bagi hampir seluruh orang. Mereka lebih suka mempersiapkan diri dengan standar materi yaitu rumah, kendaraan, dan kemapanan karir. Setelah menjadi sempurna, setelah itu baru mereka menikah. Salman mencoba melakukan dialektika pemahaman tentang hal tersebut dalam tutur yang sederhana namun penuh inspirasi.
                Menurutnya mencari pasangan yang sempurna itu sia-sia. Hal itu justru bisa menjadi pemicu seseorang untuk meninggalkan pasangan terbaik yang sebenarnya sudah mereka punya, dan hal tersebut juga membuat mereka menyesal pada akhirnya.
                Salman juga berharap novel ini dapat menjadi khazanah dan referensi banyak orang dalam mengarungi kehidupan pasca mereka memutuskan untuk menikah ditengah pondasi materi yang belum terbentuk. Karena menurutnya yang terpenting dalam pernikahan adalah kematangan sikap dalam menghadapi setiap permasalahan yang pasti datang bukan hanya dalam pernikahan namun di seluruh aspek kehidupan manusia.

Senin, 22 Agustus 2016

Critical Reader

Tulisan ini merupakan salinan dari tulisan saya di DATDUT.com



Di era yang serba digital seperti sekarang ini, banyak informasi yang berseliweran dari berbagai penjuru media yang dengan mudahnya dapat diakses oleh siapapun. Atas nama kebebasan menyampaikan pendapat penulis dengan mudahnya meramaikan jagat media sosial dengan beraneka ragam motif. Dari yang menyejukan hingga yang dapat memerahkan telinga pemegang kuasa. Semua tulisan dapat dengan bebas menghujani dengan derasnya jagat media sosial tanpa control baik secara sosial maupun secara hukum. 

Disetiap tulisan yang terbit dan terhubung keseluruh perangkat lunak dan menyebar ke seluruh penjuru dunia melalui berbagai bentuk media, memiliki tujuan yang umum dikenal dengan “the author purpose”. Bahkan tulisan yang akan Anda baca ini, pasti meliki tujuan. Tinggal apakah anda tergolong ke dalam the critical reader atau the really, really emotional reader

The critical reader adalah pembaca yang tidak lantas percaya dengan informasi yang ia baca. Pembaca dengan tipe ini, setelah melakukan analisis diksi dan hubungannya dengan subtansi atau isi yang ingin disampaikan kemudian ia segera mencari informasi tentang penulis, background penulis, dan juga pekerjaan penulis. Sampai ia merasa yakin bahwa tulisan tersebut dianggap wajar dan relatif obyektif tanda adanya pretensi yang membabituda dan kental dengan subyektivitas. 

The really, really emotional reader adalah pembaca yang dengan cepatnya mengambil kesimpulan terhadap apa yang ia baca. Jangankan ia sempat melakukan kroscek terlebih dahulu terhadap diksi dan hubungannya dengan subtansi yang disampaikan, bahkan dengan hanya membaca judul dengan bangganya ia membagikan informasi tersebut kepada khalayak lain. Karena ia merasa informasi tersebut valid dan harus diketahui orang banyak.

Kepolisian Republik Indonesia telah menerbitkan Surat Edaran Kapolri Nomor: SE/6/X/2015 tentang penanganan ujaran kebencian (Hate Speech). Bentuk-bentuk ujaran kebencian yang dimaksud pada Surat Edaran Hate Speech ini dapat berupa: 1). Penghinaan; 2). Pencemaran nama baik; 3). Penistaan; 4).  Perbuatan tidak menyenangkan; 5). Memprovokasi; 6).    Menghasut, dan 7). Penyebaran berita bohong. Dan tindakan yang dimaksud memiliki  tujuan atau bisa berdampak pada tindak diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa, dan/atau konflik sosial. 

Untuk menghindari dari respon yang berlebihan atas apa yang dibaca pada media sosial, ada baiknya mengetahui 6 poin tujuan seseorang membubuhkan tulisanya, yaitu:  

1. To entertain you
Tujuan penulis pada poin pertama ini adalah untuk menghibur para pembaca sehingga mereka merasa nyaman dan ingin terus membaca terhadap apa yang dituliskan oleh penulis. Tulisan ini umumnya berbentuk narasi yang artinya berita ini tidak benar-benar terjadi. Tulisan seperti ini dapat kita jumpai pada tulisan berbentuk fiksi sejarah.   

2. To inform you 
Pada poin kedua ini, penulis ingin memberikan informasi kepada pembaca tanpa ada pengharapan feedback apapun. Karena penulis secara sukarela ingin menginformasikan kepada pembaca, baik yang membutuhkan maupun yang tidak membutuhkan. Tulisan ini berbentuk deskriptif, rijit, dan detail. 

3. To persuade you 
     Tujuan penulis pada poin ini adalah agar pembaca dapat terpengaruh terhadap apa yang dinformasikan kepada mereka. Penulis mengharapkan feedback yang berbentuk reaksi terhadap informasi. Hal ini umumnya memiliki motif ekonomi. 
      
      4. To teach you
Tujuan penulis pada poin ini adalah agar pembaca mengambil pelajararn terhadap informasi yang disampaikan. Benutk informasi ini umumnya berbentuk artikel, cerita non-fiksi, dan panduan cara melakukan sesuatu.

5. To scare you 
Tujuan penulis pada poin ini adalah untuk menakut-nakuti pembaca terhadap informasi yang probabilitasnya masih jauh unutk terjadi, namun dengan memberikan informasi-informasi yang mencekam, membuat pembaca merasa khawatir. 

6. To emotionally touch you
Tujuan penulis pada poin ini adalah untuk membuat pembaca merasa tersentuh, namun umumnya pada media sosial poin ini bertujuan mendapatkan banyak like dari pembaca yang kemudian penulis akan memanfaatkannya untuk kepentingan ekonomi. 

Dari keseluruahan poin yang telah disampaikan, nyaris tidak ada satu tulisanpun yang bebas dari motif penulis. Di era digital sekarang ini, motif citation dan view merupakan menjadi motif utama dalam sebuah tulisan. Semakin banyaka citasi dan view atas tulisan yang penulis buat, semakin dikjaya dan harumlah nama penulis dan institusi tempat penulis bekerja.

Demikianlah, semoga kita bisa menjadi pembaca yang cerdas sehingga dapat mengelola informasi menjadi kekuatan untuk membangun negara ini kearah yang lebih baik.