“Kapan nikah Man?”, tanya Encing Darwin kepada Salman.
Tensi darah Salam sering kali melesat hingga 40ยบ C ketika
harus menanggapi pertanyaan semacam itu. Layaknya lakon si Bolot (tokoh komedian) yang
sering kali bikin nyolot lawan bicaranya. Ingin rasanya meminjam tinju Muhammad Ali dan menghujamkannya
ke mulut orang tersebut.
“Iya nih Cing, blom ketemu jodohnya...,”
“Lah...emang ngapa ampe blom ketemu, emang lo taro di
mana tuh jodoh?,”
“Kayaknya aye simpen di kantong celana dah Cing.”
Jawab Salman menimpali candaan Encingnya ketika
duduk di bale bambu berukuran 1x2 meter, yang dibuat oleh Engkongnya ketika ia
masih hidup, di sebuah acara lamaran salah seorang keponakan perempuannya. Sambil
menggantungkan kakinya mengayun di atas tanah dan memandangi tumpukan kayu
bakar yang sudah disiapkan untuk acara pernikahan saudaranya tersebut. Kayu
bakar yang menumpuk membentuk gundukan persegi empat yang tingginya bisa
mencapai 1-1,5 meter. Pada saat itu nampaknya tumpukan tersebut menjadi sebuah petanda
bagi masyarakat bahwa Tuan rumah hendak menyelenggarakan sebuah hajat, baik itu
pernikahan maupun khitanan. Dan tinggi tumpukan tersebut juga seolah menjadi
penanda pada besar dan kecilnya acara yang akan digelarnya nanti.
Selain tensi darah yang melaju gesit, sebenarnya jika ditanya dengan
pertanyaan seperti itu untuk kesekian kalinya, ingin rasanya Salman
buru-buru migrasi dari planet Bumi menuju Venus atau ke Mars dan membangun
peradaban baru di sana tanpa perlu ada orang-orang yang membombardirnya
dengan pertanyaan tentang perkawinan.
Karena baginya pertanyaan terebut kejam dan kurang beradab, hanya membuatnya
sakit perut saja. Sebenarnya ia sudah menstock
jawaban-jawaban elakan untuk mencukupi pertanyaan yang serupa. Namun karena
sering digunakan, stock tersebut
lambat laun menipis dan habis. Sebagai benteng terakhir, ia sudah menyiapkan
bendera putih yang ia bias gunakan apabila stock kesabarnnya telah habis akibat
dari bombardir pertanyaan tentang perkawinan yang kerap kali dilancarkan oleh
handai taulan.
Beraneka
ragam sebenarnya jawaban yang keluar dari mulut orang yang ditanya dengan pertanyaan semacam itu, namun rata-rata jawaban-jawaban
yang keluar dari mulut mereka yang belum menikah, mungkin hanya sekedar
jawaban pelarian untuk menutupi ketakutan mereka untuk
menikah.
Karena menikah secara fakta
memang membutuhkan persiapan material, mental dan spiritual. Makanya
pemerintah sekarang ini mulai gencar kembali mengampanyekan larangan
menikah dini melalui berbagai macam media penyampaian.
Meskipun demikIan, banyak juga
buku-buku yang justru menulis ajakan untuk menikah muda, Keduanya mungkin
benar dan keduanya mempunyai dasar dan alasan yang kuat untuk diargumentasikannya.
Nikah itu merupakan
sebuah keniscayaan hidup seorang manusia yang ditugaskan Tuhan kepadanya untuk
membangun sebuah peradaban di bumi ini. Oleh karena itu tak seorangpun yang
dapat menghindar dari sebuah proses kehidupan yang bernama pernikahan.
Bersambung ...............