Jumat, 27 Januari 2017

Migrasi ke Mars “Bukalah matamu lebar-lebar sebelum pernikahan, dan bukalah setengah tertutup sesudahnya” (Benjamin Franklin)



“Kapan nikah Man?”, tanya Encing Darwin kepada Salman.
Tensi darah Salam sering kali melesat hingga 40º C ketika harus menanggapi pertanyaan semacam itu. Layaknya lakon si Bolot (tokoh komedian) yang sering kali bikin nyolot lawan bicaranya. Ingin rasanya meminjam tinju Muhammad Ali dan menghujamkannya ke mulut orang tersebut.
                “Iya nih Cing, blom ketemu jodohnya...,
                “Lah...emang ngapa ampe blom ketemu, emang lo taro di mana tuh jodoh?,”
                “Kayaknya aye simpen di kantong celana dah Cing.” Jawab Salman menimpali candaan Encingnya ketika duduk di bale bambu berukuran 1x2 meter, yang dibuat oleh Engkongnya ketika ia masih hidup, di sebuah acara lamaran salah seorang keponakan perempuannya. Sambil menggantungkan kakinya mengayun di atas tanah dan memandangi tumpukan kayu bakar yang sudah disiapkan untuk acara pernikahan saudaranya tersebut. Kayu bakar yang menumpuk membentuk gundukan persegi empat yang tingginya bisa mencapai 1-1,5 meter. Pada saat itu nampaknya tumpukan tersebut menjadi sebuah petanda bagi masyarakat bahwa Tuan rumah hendak menyelenggarakan sebuah hajat, baik itu pernikahan maupun khitanan. Dan tinggi tumpukan tersebut juga seolah menjadi penanda pada besar dan kecilnya acara yang akan digelarnya nanti.              
Selain tensi darah yang melaju gesit, sebenarnya jika ditanya dengan pertanyaan seperti itu untuk kesekian kalinya, ingin rasanya Salman buru-buru migrasi dari planet Bumi menuju Venus atau ke Mars dan membangun peradaban baru di sana tanpa perlu ada orang-orang yang membombardirnya dengan pertanyaan tentang perkawinan. Karena baginya pertanyaan terebut kejam dan kurang beradab, hanya membuatnya sakit perut saja. Sebenarnya ia sudah menstock jawaban-jawaban elakan untuk mencukupi pertanyaan yang serupa. Namun karena sering digunakan, stock tersebut lambat laun menipis dan habis. Sebagai benteng terakhir, ia sudah menyiapkan bendera putih yang ia bias gunakan apabila stock kesabarnnya telah habis akibat dari bombardir pertanyaan tentang perkawinan yang kerap kali dilancarkan oleh handai taulan.
Beraneka ragam sebenarnya jawaban yang keluar dari mulut orang yang ditanya dengan  pertanyaan semacam itu, namun rata-rata jawaban-jawaban yang keluar dari mulut mereka yang belum menikah, mungkin hanya sekedar jawaban pelarian untuk menutupi ketakutan mereka untuk menikah.
                Karena menikah secara fakta memang membutuhkan persiapan material, mental dan spiritual. Makanya pemerintah sekarang ini mulai gencar kembali mengampanyekan larangan menikah dini melalui berbagai macam media penyampaian.
                Meskipun demikIan, banyak juga buku-buku yang justru menulis ajakan untuk menikah muda, Keduanya mungkin benar dan keduanya mempunyai dasar dan alasan yang kuat untuk diargumentasikannya.
                Nikah itu merupakan sebuah keniscayaan hidup seorang manusia yang ditugaskan Tuhan kepadanya untuk membangun sebuah peradaban di bumi ini. Oleh karena itu tak seorangpun yang dapat menghindar dari sebuah proses kehidupan yang bernama pernikahan.

Bersambung ...............

Tidak ada komentar:

Posting Komentar