Minggu, 03 Desember 2017

Cinta adalah sebuah kegilaan sementara yang dapat disembuhkan dengan pernikahan.




“Kalian itu kalo kerja jangan setengah-setengah, ya!”
            “Kerja itu yang bener!”
            “Percuma banyak karyawan, kalau semua akhirnya saya juga yang handle!
Setengah memaki, Rudi, seorang bos perusahaan konsultan berusia 35 tahun mengomentari anak buahnya yang menurutnya bekerja kurang beres.
Rudi memiliki rambut agak keriting dan berperawakan besar tapi tidak kekar. Tingginya sekitar 175 cm dan berat 85 Kg. Jika dilihat dari usia dia sudah cukup berumur untuk sebuah pernikahan.
Dalam hal karier ia dapat dikategorikan cukup sukses. Segala urusan kehidupan, ia juga kelihatan beres. Tetapi ada satu hal yang selalu bikin pria ini kelihatan selalu murung. Dia tak punya siapa-siapa di rumahnya.
            “Kenapa ya, To?, walaupun kalo dipikir-pikir saya hampir mempunyai segalanya, tapi sering kali saya merasa gelisah.”
Begitulah bunyi salah satu curhatan Rudi kepada Anto, salah seorang karyawan yang sekaligus menjadi satu-satunya orang yang menjadi teman karib dimasa susah dan susah.  Sering kali mereka berdua mengobrol menghabiskan malam di tempat nongkrong favorit mereka, Dunkin Donuts, Arion mall Rawamangun.
            Anto adalah seorang karyawan yang sudah bekerja hampir 10 tahun padanya, Bos Rudi begitu Anto biasa memanggilnya. Pekerjaan sehari-harinya adalah mengonsep dan menyetak surat yang akan dikirim kepada calon klien serta menggandakan materi-materi pelatihan yang akan digunakan pada setiap DIKLAT yang telah dijadwalkan secara periodik.
            Berbeda kondisi dengan Bos Rudi, Anto meiliki keluarga yang lengkap. Pada tahun 2007 ia memberanikan diri untuk melamar seorang wanita berdarah betawi, walau dengan modal pas-pasan. Perkawinannya dikaruniai satu orang putra dan satu orang putri.
            Walaupun penghasilannya di tempat ia bekerja sekarang dirasa kurang mencukupi untuk hidup layak di Ibu kota, namun ia bersyukur dan cukup bahagia dengan kehadiran seorang istri dan dua orang anak yang senantiasa menghiasi kehidupannya setiap hari.
            Rudi memang cukup mapan secara materi, namun ia tidak memiliki banyak teman. Memang agak sulit membayangkan bagaimana rasanya punya apa-apa, tapi tidak punya siapa-siapa?. Duit banyak, tapi tidak tahu mau dipakai buat nyenengin siapa. Bisa beli apa-apa, tapi tidak tahu tuh barang bakal dikasih ke siapa. Impian tercapai, tapi dirayakan tanpa siapa-siapa. Hambar memang rasanya hidup tanpa pasangan. Namun itulah kehidupan nyata seorang Rudi yang sampai saat ini berjalan “tanpa punya siapa-siapa”.
            “Sudahlah, Nak, daripada kamu memikirkan wanita yang tidak jelas itu, lebih baik kamu segera menikah saja dengan wanita lain,” pinta Mamanya Rudi karena merasa kasihan melihat keadaan anaknya yang kian terlihat merana dan terus mengurung diri di dalam kamar akibat putus cinta.
            “Menikah dengan siapa, Ma?” tanya Rudi kepada Mamanya pelan sambil berbaring lesu di atas tempat tidur.
            “Anaknya teman Papa kamu itu loh, dia baru lulus dari fakultas kedokteran. Anaknya baik dan manis.
            Gak mau...,” jawab Rudi dari balik bantal.
            “Terus sampai kapan kamu terus begini?”
            “Pokoknya gak mau.
            “Dia itu anak baik dan keturunan baik-baik loh. “Memang wanita macam apa lagi yang kamu harapkan Nak?” keluh Mama Rudi sambil meninggalkan kamar, di benaknya dibayangi kekecewaan dan kebingungan atas sikap anaknya yang terus bernostalgia dengan masa lalu.
            Setelah Mamanya terus membanjiri saran untuk menikah dengan wanita pilihan Papahnya, akhirnya ia mencoba untuk menerima keadaanya tesebut. Rudi menerima calon yang diajukan oleh orang tuanya tersebut. Keesokan harinya, ia menyampaikan sebuah keputusan kepada Mamanya.
            “Baiklah Ma, kalo itu sudah menjadi pilihan Mama.”
            Dengan berat hati, akhirnya Rudi menikah dengan seorang wanita pilihan orang tuanya. Akhirnya pernikahan tanpa dasar cinta itupun dilangsungkan. Walaupun Rudi telah menjadi seorang suami dari seorang istri yang dipilihkan orang tua dan mendapatkan restu dari kedua keluarga, namun pernikahan Rudi tersebut dibayangi sosok wanita lain. Wanita yang ia nikahi bukanlah belahan hatinya. Dari pernikahannya itu, ia dikaruniai seorang putra yang kini berusia 8 tahun.
            Setelah 5 tahun usia pernikahanya, Rudi sudah mulai jarang tinggal serumah dengan istrinya. Dan lama-kelamaan pernikahan Rudi kandas karena cintanya masih tergadai di hati wanita lain yang sejak lama menjadi pujaan hatinya. Baginya wanita punyaan tidaklah tergantikan. Walaupun wanita tersebut dan dirinya telah sama-sama menjadi milik orang, namun hal itu tidak menyurutkan hatinya untuk tetap terus menerus memikirkannya.
            Terus bernostalgia dengan masa walaupun ia telah beristri merupakan penyebab kandasnya pernikahan Rudi. Perasaan tersebut selalu menarik-nariknya untuk larut ke masa lalu.
Ia bagaikan sosok ternak yang terus memandang jealous lebatnya rerumputan di kandang ternak lain, dan terus menggerutu tentang kondisi rumput di kandangnya sendiri. Walaupun pada kenyataanya rumput di kandang sebelah yang ia pikir lebih lebat dan lezat adalah rumput sintetis, yang sebenarnya tidak lebih baik dari rumput yang ia miliki.
            Ia masih ingin mengejar cintanya yang pupus oleh sebuah sudut pandang materialistis dari orang tua wanita pujaan hatinya kepada dirinya. Ia masih ingat sekali ucapan Ayah wanita pujaannya itu yang diceritakan kepadanya,        “Apa yang kamu harapkan dari seorang Rudi?
            Tinggalkan dia sekarang juga. Cari laki-laki lain!”
            “Kalau kamu bisa meninggalkan dia maka mobil Honda City gold dan rumah ini jadi milik kamu,kenang Rudi.
            Wanita punjaannya hanyalah seorang anak wanita yang tersandra dengan keadaan. Ia tidak ingin di cap sebagai anak durhaka kepada orang tuanya, namun di sisi lain ia juga tidak ingin menyakiti perasaan hati Rudi.
            Akhirnya keputusan berat harus diambilnya. Ia harus menikah dengna laki-laki yang belum ia cintai. Pilihannya adalah, meninggalkan orang yang dicintainya atau belajar mencintai orang yang mencintainya. Akhirnya ia mencoba belajar orang yang mencintainya dan proses tersebut masih terjaga hingga kini.
            Pada saat itu, orang tua wanita tersebut hanya melihat Rudi yang memang tidak bergelimang kemewahan. Ia hanya seseorang yang dibesarkan dari keluarga sederhana. Orang tua wanita pujaannya itu tidak melihatnya dari sudut pandang yang lain, yaitu “bakat sukses”.
            Bakat sukses tidak menjadi salah satu instrumen penilaian oleh keluarga wanita tersebut. “Tidak apa tidak kaya, yang penting punya bakat kaya”, ingat Rudi tentang obrolannya dengan seorang sahabat yang pada 23 maret 2014 lalu menikahkan putra pertamanya dan sekaligus mengadakan resepsi pernikahan tersebut di pinggir Beach City Ancol, Jakarta Utara.
            Setelah memutuskan berpisah secara baik- baik dengan istrinya, sampai sekarang Rudi masih sendiri. Ia tidak memiliki teman untuk berbagi kecuali Anto. Sebelum Anto menikah, ia juga sempat mengatakan kepadanya mengenai hati dan jodoh.
            "Kamukan masih muda, To, masih punya banyak teman sebaya yang bisa kamu pilih salah satu di antara mereka.
            “Belajarlah untuk hidup bahagia berdua sedari usia muda, jangan seperti saya,” ujar Rudi sambil menerawang masa lalunya yang ia sesali.
            “Semakin tua umur manusia, pilihan pasangan semakin sedikit rasanya, ucap Rudi melanjutkan ceritanya.
            “Kenapa begitu Pak?” tanya Anto polos.
            “Karena orang-orang yang umurnya sebaya, sudah menikah semua. Pada akhirnya saya menyesali segala keputusan bodoh di masa lalu saya, karena saya selalu mencari yang sempurna," kenang Rudi kepada Anto.
            Rudi memang tergolong pria perfeksionis. Salah satu buktinya adalah tentang pekerjaan kantor. Segala urusan kantor harus melewatinya terlebih dahulu. Karena meskipun Ia memiliki 50 karyawan, namun ia menganggap hasil pekerjaan mereka belum sebagus yang ia hasilkan.
            "Dulu setiap kali saya mencoba untuk serius sama wanita, saya selalu berpikir emangnya dia siapa? Rudi melanjutkan ceritanya.
            “Bapak terlalu pemilih sih...” ucap Anto menemani.
            “Saya berpikir kalau saya terlalu bagus untuk dia! Dia nggak boleh semudah ini untuk mendapatkan saya. Dia harus tahu siapa saya!” itulah beberapa ucapan yang Rudi curahkan kepada Anto ketika ia mencoba memulai kembali lembaran baru hidupnya terhadap wanita.
            “Sekarang pikiran saya berubah, saya tidak lagi berpikir seperti dulu. Asalkan wanita itu baik, saya ingin mengenalnya," lanjut Rudi.
            Itulah beberapa cerita yang di-share Anto kepada Salman dalam sebuah obrolan santai sambil menyantap makan siang di sebuah warung makan, 10 meter dari samping kantor mereka. Anto dan Salman adalah rekan kerja satu kantor. Mungkin Anto terlalu berat untuk menampungnya seorang diri sehingga apa yang diceritakan Bos Rudi kepadanya ia tuangkan kembali kepada Salman.
            Mendengar cerita tersebut, Salman jadi teringat tentang beberapa perkataan orang mengenai jodoh kepadanya. Hatinya kemudian bertanya-tanya.
            “Apakah itu semua benar? Apakah itu semua pantas untuk jadi pedoman? Lantas apa persepsi saya tentang jodoh sudah benar?” ucap Salman dalam hati sambil menatap kosong ke arah Anto yang berkali-kali menggerakan tangannya di depan muka Salman.
            “Eh...Man, kenapa lu?, kesambet ya?” ucap Anto bercanda.
            “Eh...kagak, kagak apa-apa,” ucap Salman yang gelagapan, tersandar dari lamunan sambil menyudahi makan siangnya yang masih tersisa seperempatnya. Entah menunya yang kurang enak atau ada pertimbangan lain. Kemudian Salman meninggalkan Anto dan mengakhiri percakapan tanpa sepatah kata pun.

(Bersambung.....)