“Kalian itu kalo kerja jangan setengah-setengah, ya!”
“Kerja itu yang bener!”
“Percuma banyak karyawan, kalau semua akhirnya saya juga yang handle!”
Setengah memaki, Rudi, seorang bos perusahaan
konsultan berusia 35 tahun mengomentari anak
buahnya yang menurutnya bekerja kurang beres.
Rudi
memiliki rambut agak keriting
dan berperawakan besar tapi tidak kekar. Tingginya sekitar 175 cm dan berat
85 Kg.
Jika dilihat dari usia dia sudah cukup berumur untuk sebuah pernikahan.
Dalam
hal
karier ia dapat dikategorikan cukup sukses. Segala urusan
kehidupan, ia juga kelihatan beres. Tetapi ada satu hal yang
selalu bikin pria ini kelihatan selalu murung. Dia tak punya siapa-siapa
di
rumahnya.
“Kenapa ya, To?, walaupun kalo dipikir-pikir saya
hampir
mempunyai segalanya, tapi sering kali saya merasa
gelisah.”
Begitulah bunyi salah satu curhatan Rudi kepada Anto, salah seorang karyawan
yang sekaligus menjadi satu-satunya orang yang menjadi teman karib dimasa
susah dan susah. Sering kali mereka
berdua mengobrol menghabiskan malam di tempat nongkrong favorit mereka, Dunkin’ Donuts, Arion mall Rawamangun.
Anto adalah seorang karyawan yang
sudah bekerja hampir 10 tahun padanya, Bos Rudi begitu Anto biasa memanggilnya. Pekerjaan
sehari-harinya adalah mengonsep dan menyetak surat yang akan
dikirim kepada calon klien
serta menggandakan materi-materi pelatihan yang akan digunakan pada setiap DIKLAT yang telah dijadwalkan secara periodik.
Berbeda
kondisi dengan Bos Rudi, Anto meiliki keluarga yang lengkap. Pada tahun 2007 ia
memberanikan diri untuk melamar seorang wanita berdarah betawi, walau dengan
modal pas-pasan. Perkawinannya
dikaruniai satu orang putra dan satu orang putri.
Walaupun
penghasilannya di tempat ia bekerja sekarang dirasa
kurang mencukupi untuk hidup layak di Ibu kota, namun ia bersyukur dan cukup
bahagia dengan kehadiran
seorang istri
dan dua orang anak yang senantiasa menghiasi kehidupannya setiap hari.
Rudi memang cukup mapan secara
materi, namun ia tidak memiliki banyak teman. Memang agak sulit
membayangkan
bagaimana rasanya punya apa-apa, tapi tidak punya siapa-siapa?. Duit banyak, tapi tidak tahu mau
dipakai
buat nyenengin siapa. Bisa beli
apa-apa, tapi tidak tahu tuh
barang bakal dikasih ke siapa. Impian tercapai, tapi
dirayakan
tanpa siapa-siapa. Hambar memang rasanya
hidup tanpa pasangan. Namun itulah kehidupan
nyata seorang Rudi yang
sampai
saat ini berjalan “tanpa punya siapa-siapa”.
“Sudahlah, Nak, daripada kamu memikirkan wanita
yang
tidak jelas itu, lebih baik kamu segera menikah saja dengan
wanita lain,” pinta Mamanya Rudi karena merasa kasihan melihat keadaan anaknya yang kian terlihat merana dan terus mengurung
diri di dalam kamar akibat putus cinta.
“Menikah dengan siapa, Ma?” tanya Rudi kepada
Mamanya
pelan sambil berbaring lesu di atas tempat tidur.
“Anaknya teman Papa kamu itu loh,
dia baru lulus dari fakultas kedokteran. Anaknya baik dan manis.”
“Gak mau...,” jawab Rudi dari balik bantal.
“Terus sampai kapan kamu terus
begini?”
“Pokoknya gak mau.”
“Dia itu anak baik dan keturunan
baik-baik loh.” “Memang wanita macam apa lagi yang
kamu harapkan Nak?” keluh
Mama Rudi sambil meninggalkan kamar, di benaknya dibayangi
kekecewaan
dan kebingungan atas sikap anaknya yang terus bernostalgia dengan masa lalu.
Setelah Mamanya terus membanjiri
saran untuk menikah dengan wanita pilihan Papahnya, akhirnya ia mencoba untuk
menerima keadaanya tesebut. Rudi menerima calon yang diajukan oleh orang
tuanya
tersebut. Keesokan harinya, ia menyampaikan sebuah
keputusan kepada Mamanya.
“Baiklah Ma, kalo itu sudah menjadi pilihan Mama.”
Dengan berat hati, akhirnya Rudi
menikah dengan seorang wanita pilihan orang tuanya. Akhirnya pernikahan
tanpa dasar cinta itupun dilangsungkan. Walaupun Rudi telah menjadi seorang suami
dari
seorang istri yang dipilihkan orang tua dan mendapatkan restu dari kedua
keluarga, namun pernikahan Rudi tersebut dibayangi sosok wanita
lain. Wanita yang ia nikahi bukanlah belahan hatinya. Dari
pernikahannya itu, ia dikaruniai seorang putra yang kini
berusia 8 tahun.
Setelah 5 tahun usia pernikahanya,
Rudi sudah mulai jarang tinggal serumah dengan istrinya. Dan lama-kelamaan pernikahan Rudi kandas
karena cintanya masih tergadai di hati wanita lain yang sejak lama
menjadi pujaan hatinya. Baginya wanita punyaan tidaklah
tergantikan. Walaupun wanita tersebut dan dirinya telah sama-sama
menjadi
milik orang, namun hal itu tidak menyurutkan hatinya untuk tetap
terus menerus memikirkannya.
Terus bernostalgia dengan masa
walaupun ia telah beristri merupakan penyebab kandasnya pernikahan Rudi. Perasaan
tersebut selalu menarik-nariknya untuk larut
ke
masa
lalu.
Ia
bagaikan sosok ternak yang terus memandang jealous lebatnya rerumputan di
kandang ternak lain, dan terus menggerutu tentang kondisi rumput
di
kandangnya
sendiri. Walaupun pada kenyataanya rumput di kandang sebelah yang ia pikir lebih lebat dan
lezat adalah rumput sintetis, yang sebenarnya tidak lebih
baik dari rumput yang ia miliki.
Ia masih ingin mengejar cintanya
yang pupus oleh sebuah sudut pandang materialistis dari orang tua
wanita
pujaan hatinya kepada dirinya. Ia masih ingat sekali ucapan Ayah wanita
pujaannya itu yang diceritakan kepadanya, “Apa yang kamu harapkan dari seorang Rudi?”
“Tinggalkan dia sekarang juga. Cari laki-laki lain!”
“Kalau kamu bisa meninggalkan dia maka mobil
Honda City gold dan rumah ini jadi milik kamu,” kenang Rudi.
Wanita
punjaannya hanyalah seorang anak wanita yang tersandra dengan keadaan. Ia tidak
ingin di cap sebagai anak durhaka kepada orang tuanya, namun di sisi lain ia
juga tidak ingin menyakiti perasaan hati Rudi.
Akhirnya
keputusan berat harus diambilnya. Ia harus menikah dengna laki-laki yang belum
ia cintai. Pilihannya adalah, meninggalkan orang yang dicintainya atau belajar
mencintai orang yang mencintainya. Akhirnya ia mencoba belajar orang yang
mencintainya dan proses tersebut masih terjaga hingga kini.
Pada saat itu, orang tua wanita
tersebut hanya melihat Rudi yang
memang tidak bergelimang kemewahan. Ia
hanya seseorang yang dibesarkan dari keluarga
sederhana. Orang tua wanita pujaannya itu tidak melihatnya dari
sudut pandang yang lain, yaitu “bakat sukses”.
Bakat sukses tidak menjadi salah
satu instrumen penilaian oleh keluarga wanita
tersebut. “Tidak apa tidak kaya, yang penting punya bakat kaya”, ingat Rudi tentang obrolannya
dengan seorang sahabat yang pada 23 maret 2014 lalu menikahkan putra
pertamanya
dan sekaligus mengadakan resepsi pernikahan tersebut di pinggir Beach City Ancol, Jakarta
Utara.
Setelah memutuskan berpisah
secara baik- baik dengan istrinya, sampai sekarang Rudi masih sendiri.
Ia tidak memiliki teman untuk berbagi kecuali Anto. Sebelum Anto menikah, ia juga
sempat
mengatakan kepadanya mengenai hati dan jodoh.
"Kamukan masih muda, To, masih punya banyak teman
sebaya yang bisa kamu pilih salah satu di antara mereka.”
“Belajarlah untuk hidup bahagia berdua sedari usia
muda,
jangan seperti saya,” ujar Rudi sambil menerawang masa lalunya yang ia sesali.
“Semakin tua umur manusia, pilihan pasangan
semakin
sedikit rasanya,” ucap Rudi melanjutkan ceritanya.
“Kenapa begitu Pak?” tanya Anto
polos.
“Karena orang-orang yang umurnya
sebaya, sudah menikah semua. Pada akhirnya saya
menyesali segala keputusan bodoh di masa lalu saya, karena saya selalu
mencari yang sempurna," kenang Rudi kepada Anto.
Rudi memang tergolong pria perfeksionis. Salah satu
buktinya
adalah tentang pekerjaan kantor. Segala urusan kantor harus
melewatinya terlebih dahulu. Karena meskipun Ia memiliki 50
karyawan, namun ia menganggap hasil pekerjaan mereka belum
sebagus yang ia hasilkan.
"Dulu setiap kali saya mencoba
untuk serius sama wanita, saya selalu berpikir emangnya dia siapa?” Rudi
melanjutkan
ceritanya.
“Bapak terlalu pemilih
sih...”
ucap Anto menemani.
“Saya berpikir kalau saya terlalu bagus
untuk dia! Dia nggak
boleh semudah ini untuk mendapatkan saya. Dia harus tahu siapa saya!” itulah beberapa ucapan
yang Rudi curahkan kepada Anto
ketika ia mencoba memulai kembali lembaran baru
hidupnya terhadap wanita.
“Sekarang pikiran saya berubah,
saya tidak lagi berpikir seperti dulu. Asalkan wanita itu baik, saya
ingin mengenalnya," lanjut
Rudi.
Itulah beberapa cerita yang di-share Anto kepada
Salman
dalam sebuah obrolan santai sambil menyantap makan siang di sebuah
warung makan, 10 meter dari samping kantor mereka. Anto dan Salman
adalah rekan kerja satu kantor. Mungkin Anto terlalu berat untuk
menampungnya seorang diri sehingga apa yang diceritakan Bos Rudi kepadanya ia tuangkan kembali kepada
Salman.
Mendengar cerita
tersebut,
Salman jadi teringat tentang beberapa perkataan orang mengenai jodoh
kepadanya. Hatinya kemudian bertanya-tanya.
“Apakah itu semua benar?
Apakah
itu semua pantas untuk jadi pedoman? Lantas apa persepsi saya tentang
jodoh sudah benar?” ucap Salman dalam hati sambil menatap
kosong ke arah Anto yang berkali-kali menggerakan
tangannya di depan muka Salman.
“Eh...Man, kenapa lu?,
kesambet ya?” ucap Anto
bercanda.
“Eh...kagak,
kagak apa-apa,” ucap Salman yang gelagapan, tersandar
dari lamunan sambil menyudahi makan
siangnya yang masih tersisa seperempatnya.
Entah menunya yang kurang enak atau
ada pertimbangan lain. Kemudian
Salman meninggalkan Anto dan mengakhiri
percakapan tanpa sepatah kata pun.(Bersambung.....)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar