Minggu, 05 Januari 2014

Apologize

Pride berasal dari bahasa latin yaitu 

fastosus yang berarti harga diri. setiap manusia memiliki harga diri. Harga diri merupakan sebuah border yang tidak boleh dilanggar oleh individu lain. Sebuah kerusuhan besar besar beberapa kali terjadi disebabkan oleh hal yang sangat kecil, namun hal kecil tersebut merupakan sebuah bentuk pelanggaran border yang telah dilakukan oleh individu atau kelompok lain. 


 


Harga diri merupakan sebuah hal yang sangat unik. seseorang harus menyelam kedalam palung permasalah terdalam untuk memahami keunikan ini. Harga diri memiliki banyak instrumen. Sedih, kecewa, masa lalu, senang, dan segenap tentang rasa meruapakan instrumen yang tidak dapat dipisahkan dari harga diri. Oleh karena itu apabila ada individu ataupun kelompok yang ingin melewati border tersebut harus memiliki kompetensi pendekatan dan metode yang sudah sering kali teruji secara empirik lewat kasus-kasus yang bervariasi dan dinamis dalam kehidupannya ketika ia ingin mendapatka sebuah tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. 


 


Berikut beberapa empirisme yang dapat dijadikan bahan perumusan pendekatan ketika seseorang ingin melewati border harga diri orang lain. 

Pendekatan/ metode/ cara yang ia terapkan sebaiknya tanpa adanya embel-embel pemikiran, excuse, maupun pertimbangan mental block yang dimiliki individu yang ingin menerapkan pendekatan ini. Karena apabila individu yang ingin menerapkan pendekatan ini tidaka akan mendapatkan tujuan yang telah ditetapkan secara maksimal. Bahkan mungkin akan mendapatkan kegagalan. Berikut beberapa empirisme yang dapaat dijadikan sebuah pertimbangan ketika seseorang ingin mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang telah ditetapkannya:


 


1. Lebih Tua


Bagi masyarakat timur yang menjunjung tinggi hirarki senioritas dalam berbagai aspek,  umur dapat menjadi sebuah border bagi sebuah individu dalam melewati border individu lain. dalam aspek ini seseorang akan cenderung merasa "gua lebih tua, masa gw yang minta maaf". atau "gua lebih tua, masa kaga ada hormat-hormatnya tuh orang". Dalam kontek ini usia merupakah yang harus diperhatikan oleh individu lain, tanpa memandang tingkat pendidikan maupun pengetahuan. Yang penting orang itu lebih tua titik.


 


2. Pendidikan


Dalam kontek ini yang dimaksud dengan border pendidikan adalah gelar atau title akademisi. Beberapa Dosen senior di Perguruan Tinggi merasa sangat dihormati ketika individu lain memanggilnya dengan panggilan "Prof." atau seorang dosen bahasa akan nyaman ketika ia dipanggil dengan sebutan "Mr., Ms.,sense" atau "Ustadz". Dengan mengetahui background pendidikan seseorang individu yang ingin melewati border individu tersebut dapat memahami tentang pendekatan yang harusnya dia terapkan untuk melewati border


 


3. Kekayaan


Kekayaan atau wealthy merupakan sebuah simbol keberhasilan individu diseluruh penjuru dunia ini. Ketia ada seorang pengendara sepeda motor vespa butut dan seorang pengendara lamborgini lewat di depan kita, mana yang lebih dapat respon dan apresiasi oleh anda sebagai individu?" ya tentu pengendara lamborgini yang anda hormati". padahal anda merespon itu secara spontan, tanpa ada perencanaan terlebih dahulu. 


 


4. Kedudukan


Seorang yang berkarir di pemerintahan dan memiliki tingkat kedudukan eselon I, akan cenderung suka apabila ada orang yang bepapasan dan kemudian orang itu menunduk dalam rangka hormat kepadanya. Dibandingkan ia berpasan dengan orang lain dan orang tersebut hanya memberikan salam dan berjabat tangan dengan posisi badan tegak sempurna. 


 


5.  Keturunan/ Darah


Walaupun peodalisme merupakan hal yang berdampak kurang baik bagi tercitanya demokrasi dan harmonisasi kehidupan, namun peodalisme merupakan hal yang tidak bisa dianggap telah musnah. Banyak orang yang merasa leibh tinggi martabatnya dibandingkan orang lain oleh karena ia bergelar Ratu, Raden, Tubagus, Andi, Kanjeng, dan lain-lain.  




Oleh: M. Agus Suriadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar