Pada kesempatan ini penulis
mencoba menuangkan hasil pengamatanya sebagai seorang pengendara yang menghabiskan
waktu berjam-jam di atas kendaraanya.
Secara empirik “kesabaran”
telah memperlihatkan kepada manusia betapa “ia” mampu membawa seseorang berada
di tempat yang lebih tinggi derajatnya diantara yang lainya. Derajat tersebut memiliki
banyak versi dalam kehidupan manusia. Ada yang berupa materi ataupun kedudukan
dalam hirarki sosial.
Ketika seseorang
melakukan tilawah, ia akan menemukan nilai-nilai kesabaran yang dipaparkan
secara gamblang di dalam kitab al-qur’an. Nialai-nilai yang dijelaskan
antaralain bahwa, sebaiknya manusi
bersabar dalam mengarungi kehidupan ini. Karena hal itu sangat indah disukai
oleh Tuhan.
Dalam mempraktekan
nilai kesabaran yang disukai Tuhan tersebut, bukanlah sebuah kemudahan. Karena dalam
beberapa kasus sosial, ketika manusia berada dalam kerumunan masa, logikanya
terkikis oleh lingkungan yang mengakibatkan sering dijumpai pertengkaran yang
sebenarnya diletup oleh hal-hal yang sepele.
Hasil beberapa
pengamatan, penulis mengamati perilaku berkendara yang banyak kehilangan
kontrol logikanya terhadap emosi yang mengambil alih kehidupannya. Bawah sadarnya
tidak mampu membalikan logika untuk berkuasa atas perasaan yang mendominasi
prilaku pada saat itu. Mari kita ambil contoh pada saat pengendara berada di
lintasan Traffic light. 60%
pengendara akan membunyikan horn
kendaraanya ketika angka penghitung Traffic light tersebut berada diangka 10
menuju kuning kemudian hijau. Bawah sadarnya sebenarnya mengakui bahwa tindakan
tersebut sebenarnya tidak tepat, namun prilaku tersebut tercipta disebabkan adanya
kondisi perilaku kolektif dalam berkendara yang sebenarnya kurang mencerminkan
perilaku individu.
Perilaku
kolektif yang berupa gerakan sosial, seringkali muncul ketika dalam interaksi
sosial itu terjadi situasi yang tidak terstruktur, ambigious (ketaksaan/
membingungkan), dan tidak stabil. Reicher & Potter (1985) mengidentifikasi
adanya lima tipe kesalahan mendasar dalam psikologi tentang kerumunan (perilaku
massa) di masa lalu dan masa kini. Kesalahan-kesalahan itu, meliputi yaitu: (1)
abstraksi tentang episode kerumunan bersumber dari konflik antar-kelompok, (2)
kegagalan untuk menjelaskan proses dinamikanya, (3) terlalu dibesar-besarkannya
anonimitas keanggotaannya, (4) kegagalan memahami motif anggota kerumunan, dan
(5) selalu menekankan pada aspek negatif dari kerumunan.
Reicher
(1987), Reicher & Potter (1985) selama ini melihat adanya dua (2) bentuk
bias dalam memandang teori kerumunan (crowds) yaitu bias politik dan
bias perspektif. Bias politik terjadi karena teori kerumunan disusun sebagai
usaha mempertahankan tatanan sosial dari mob dan tindakan kerumunan selalu
dipandang sebagai konflik sosial. Sementara itu bias perspektif terjadi karena
para ahli hanya berperan sebagai orang luar (outsider) yang hanya
mengamati masalah tersebut. Akibatnya, terjadi kesalahan dalam memandang
tindakan kerumunan secara objektif.
Dalam hal ini,
penulis berperan sebagai insider. Karena selain mengamati, penulis juga
menjalankan rutinitasnya dari rumah ke tempat aktivitasnya sebagai pengendara. Jadi
perilaku kolektif yang dialaminya mencerminkan data sesungguhnya yang diambil
secara random ketika ia berhenti dan berdialog dengan beberapa pengendara
lainya. Hasilnya menunjukan bahwa memang perilaku kolektif menjungkir balikan
logika individu yang sesungguhnya. Yaitu jiwa-jiwa penyabar dan berkepribadian
memaafkan. Namun adapula yang memang secara individu memiliki sikap yang
apabila diukur melalui pembicaraan antara penulis dengan pengendara, ditemukan
kurang dari 3% dari 25 pengendara yang memiliki karakter kurang penyabar.
Dari hal-hal diatas dapat disimpulkan bahwa, perilaku kolektif tentang
kesabaran di jalan tidak seutuhnya mencerminkan individu yang kurang penyabar. Banyak
orang-orang penyabar yang berubah menjadi berbeda ketika ia menjadi rider di jalanan. Ditambah lagi law
inforcement yang belum baik dan tauladan dari anggota aparatur pemerintah juga
berdampak pada perilaku kolektif dalam masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar