Selasa, 08 Juli 2014

SEBAIK-BAIKNYA KAMU ADALAH PENYABAR

Pada kesempatan ini penulis mencoba menuangkan hasil pengamatanya sebagai seorang pengendara yang menghabiskan waktu berjam-jam di atas kendaraanya.

Secara empirik “kesabaran” telah memperlihatkan kepada manusia betapa “ia” mampu membawa seseorang berada di tempat yang lebih tinggi derajatnya diantara yang lainya. Derajat tersebut memiliki banyak versi dalam kehidupan manusia. Ada yang berupa materi ataupun kedudukan dalam hirarki sosial.
Ketika seseorang melakukan tilawah, ia akan menemukan nilai-nilai kesabaran yang dipaparkan secara gamblang di dalam kitab al-qur’an. Nialai-nilai yang dijelaskan antaralain  bahwa, sebaiknya manusi bersabar dalam mengarungi kehidupan ini. Karena hal itu sangat indah disukai oleh Tuhan.

Dalam mempraktekan nilai kesabaran yang disukai Tuhan tersebut, bukanlah sebuah kemudahan. Karena dalam beberapa kasus sosial, ketika manusia berada dalam kerumunan masa, logikanya terkikis oleh lingkungan yang mengakibatkan sering dijumpai pertengkaran yang sebenarnya diletup oleh hal-hal yang sepele.

Hasil beberapa pengamatan, penulis mengamati perilaku berkendara yang banyak kehilangan kontrol logikanya terhadap emosi yang mengambil alih kehidupannya. Bawah sadarnya tidak mampu membalikan logika untuk berkuasa atas perasaan yang mendominasi prilaku pada saat itu. Mari kita ambil contoh pada saat pengendara berada di lintasan Traffic light. 60% pengendara akan membunyikan horn kendaraanya ketika angka penghitung Traffic light tersebut berada diangka 10 menuju kuning kemudian hijau. Bawah sadarnya sebenarnya mengakui bahwa tindakan tersebut sebenarnya tidak tepat, namun prilaku tersebut tercipta disebabkan adanya kondisi perilaku kolektif dalam berkendara yang sebenarnya kurang mencerminkan perilaku individu.

Perilaku kolektif yang berupa gerakan sosial, seringkali muncul ketika dalam interaksi sosial itu terjadi situasi yang tidak terstruktur, ambigious (ketaksaan/ membingungkan), dan tidak stabil. Reicher & Potter (1985) mengidentifikasi adanya lima tipe kesalahan mendasar dalam psikologi tentang kerumunan (perilaku massa) di masa lalu dan masa kini. Kesalahan-kesalahan itu, meliputi yaitu: (1) abstraksi tentang episode kerumunan bersumber dari konflik antar-kelompok, (2) kegagalan untuk menjelaskan proses dinamikanya, (3) terlalu dibesar-besarkannya anonimitas keanggotaannya, (4) kegagalan memahami motif anggota kerumunan, dan (5) selalu menekankan pada aspek negatif dari kerumunan.

Reicher (1987), Reicher & Potter (1985) selama ini melihat adanya dua (2) bentuk bias dalam memandang teori kerumunan (crowds) yaitu bias politik dan bias perspektif. Bias politik terjadi karena teori kerumunan disusun sebagai usaha mempertahankan tatanan sosial dari mob dan tindakan kerumunan selalu dipandang sebagai konflik sosial. Sementara itu bias perspektif terjadi karena para ahli hanya berperan sebagai orang luar (outsider) yang hanya mengamati masalah tersebut. Akibatnya, terjadi kesalahan dalam memandang tindakan kerumunan secara objektif.

Dalam hal ini, penulis berperan sebagai insider. Karena selain mengamati, penulis juga menjalankan rutinitasnya dari rumah ke tempat aktivitasnya sebagai pengendara. Jadi perilaku kolektif yang dialaminya mencerminkan data sesungguhnya yang diambil secara random ketika ia berhenti dan berdialog dengan beberapa pengendara lainya. Hasilnya menunjukan bahwa memang perilaku kolektif menjungkir balikan logika individu yang sesungguhnya. Yaitu jiwa-jiwa penyabar dan berkepribadian memaafkan. Namun adapula yang memang secara individu memiliki sikap yang apabila diukur melalui pembicaraan antara penulis dengan pengendara, ditemukan kurang dari 3% dari 25 pengendara yang memiliki karakter kurang penyabar.

Dari hal-hal diatas dapat disimpulkan bahwa, perilaku kolektif tentang kesabaran di jalan tidak seutuhnya mencerminkan individu yang kurang penyabar. Banyak orang-orang penyabar yang berubah menjadi berbeda ketika ia menjadi rider di jalanan. Ditambah lagi law inforcement yang belum baik dan tauladan dari anggota aparatur pemerintah juga berdampak pada perilaku kolektif dalam masyarakat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar