Jam 5 merupakan waktu yang amat menggembirakan
bagi sebagian atau mungkin seluruh karyawan yang ada di kantor swasta. Karena
mereka dapat meninggalkan kesibukan mereka sejenak guna kembali ke keluarga
mereka masing-masing atau juga mengunjungi tempat-tempat yang dapat
menghilangkan penat setelah seharin bekerja.
Namun berbeda dengan pemilik pernyataan. Jam 5
merupakan awal kesendirian. Ketika notabene banyak orang merindukan keluarga
mereka, sementara pemilik pernyataan gelisah dalam kesendirian.
‘Aku’ adalah pronoun,
sebuah kata ganti yang merefleksikan sebuah posisi dan jati diri. Dalam
penggunaannya kata 'Aku' selalu digunakan oleh Tuhan di dalam Kitab Suci sebagai
kata ganti tunggal menyebutkan diri-Nya. Tuhan dalam Agama menggunakan
kata 'aku' karena status Tuhan lebih tinggi dibandingkan dengan umat-Nya. Dalam
penulisannya kata 'aku' untuk "Tuhan" yang huruf 'A'-nya selalu
ditulis dengan huruf besar, baik di depan maupun di tengah kalimat.
kata ‘aku’ merupakan sebuah pernyataan status
dalam sebuah strata vertical maupun social.
'kamu' sibuk meninggalkan 'aku' dalam kesendirian, menjejali jalan dengan atribut kelelahan untuk kembali merasakan malam. Kamu adalah sebuah pronoun jamak berupa
orang yg diajak bicara atau yg disapa dalam ragam keakraban. Kamu adalah
pronoun jamak yang biasanya terjebak dalam sebuah rutinitas. Cukup banyak jumlah 'kamu', seolah termarjinalkan atas sistem yang penuh dengan keangkuhan. Sistem yang pada kenyataanya berorientasi kepada ke 'aku-an'.
Dalam kejauhan, 'kita' berpapasan dengan keduanya. Tergopoh-gopoh untuk memenuhi sebuah omongan. Agar 'aku' dan 'kamu' tidak memperolok-oloknya karena terlanjur mengutarakan pesan.
Aku sebagai pemilik ritme kehidupan dianggap atau menganggap jejak langkah adalah sebuah jentikan yang dapat dibunyikan kapanpun aku menginginkan
Kamu sebagai pelaksana ritme kehidupan menganggap jejak langkah terlalu terjal dan cenderung melabrak Keadilan.
Antara aku dan kamu sering kali memproduksi tapal batas yang tak berkesudahan. Sehingga mengoyak keharusan yang sering kali menjadi keniscayaan.
Sebenarnya ada kompromi yang dapat menjadi jembatan antara aku dan kamu. Sehingga ritme dan jejak langkah menjadi seimbang. Kompromi tersebut bernama kita, ya kita yang dapat bergandengan tanpa perlu ada penapian Keadilan dan kesewenangan bunyi jentikan. Kita merefleksikan kebersamaan lintas batas aku dan kamu. Kita mengikat keharusan dalam kebersamaan. Kita adalah aku dan kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar