Rabu, 19 Agustus 2015

AKU, KAMU, KITA

Jam 5 merupakan waktu yang amat menggembirakan bagi sebagian atau mungkin seluruh karyawan yang ada di kantor swasta. Karena mereka dapat meninggalkan kesibukan mereka sejenak guna kembali ke keluarga mereka masing-masing atau juga mengunjungi tempat-tempat yang dapat menghilangkan penat setelah seharin bekerja.

Namun berbeda dengan pemilik pernyataan. Jam 5 merupakan awal kesendirian. Ketika notabene banyak orang merindukan keluarga mereka, sementara pemilik pernyataan gelisah dalam kesendirian.
‘Aku’ adalah pronoun, sebuah kata ganti yang merefleksikan sebuah posisi dan jati diri. Dalam penggunaannya kata 'Aku' selalu digunakan oleh Tuhan di dalam Kitab Suci sebagai kata ganti tunggal menyebutkan diri-Nya. Tuhan dalam Agama menggunakan kata 'aku' karena status Tuhan lebih tinggi dibandingkan dengan umat-Nya. Dalam penulisannya kata 'aku' untuk "Tuhan" yang huruf 'A'-nya selalu ditulis dengan huruf besar, baik di depan maupun di tengah kalimat.
kata ‘aku’ merupakan sebuah pernyataan status dalam sebuah strata vertical maupun social.

'kamu' sibuk meninggalkan 'aku' dalam kesendirian, menjejali jalan dengan atribut kelelahan untuk kembali merasakan malam. Kamu adalah sebuah pronoun jamak berupa orang yg diajak bicara atau yg disapa dalam ragam keakraban. Kamu adalah pronoun jamak yang biasanya terjebak dalam sebuah rutinitas. Cukup banyak jumlah 'kamu', seolah termarjinalkan atas sistem yang penuh dengan keangkuhan. Sistem yang pada kenyataanya berorientasi kepada ke 'aku-an'.

Dalam kejauhan, 'kita' berpapasan dengan keduanya. Tergopoh-gopoh untuk memenuhi sebuah omongan. Agar 'aku' dan 'kamu' tidak memperolok-oloknya karena terlanjur mengutarakan pesan.

Aku sebagai pemilik ritme kehidupan dianggap atau menganggap jejak langkah adalah sebuah jentikan yang dapat dibunyikan kapanpun aku menginginkan 

Kamu sebagai pelaksana ritme kehidupan menganggap jejak langkah terlalu terjal dan cenderung melabrak Keadilan. 

Antara aku dan kamu sering kali memproduksi tapal batas yang tak berkesudahan. Sehingga mengoyak keharusan yang sering kali menjadi keniscayaan. 

Sebenarnya ada kompromi yang dapat menjadi jembatan antara aku dan kamu. Sehingga ritme dan jejak langkah menjadi seimbang. Kompromi tersebut bernama kita, ya kita yang dapat bergandengan tanpa perlu ada penapian Keadilan dan kesewenangan bunyi jentikan. Kita merefleksikan kebersamaan lintas batas aku dan kamu. Kita mengikat keharusan dalam kebersamaan. Kita adalah aku dan kamu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar