"Yah.. Bangun, udah subuh," kata Al kepada Ayahnya yang kemudian bangun dan mengambil air wudhu untuk malaksanakan sholat subuh berjamaah dengan Al anaknya tersebut di masjid.
Al adalah anak tunggal dari penikahan Ayah dengan istrinya selama 10 tahun. Karena masih anak tunggal, meskipun Al sudah disiapkan kamar sendiri, namun setiap hari ia masih tidur bersama kedua orang tuanya.
Jika diminta orang tuanya untuk tidur di kamarnya, ia selalu tersenyum penuh arti (takut).
Al akan berusia 9 tahun, dengan usianya tersebut untuk beberapa orang tua merupakan sebuah tugas yang 'mendaki' untuk mengajarkan anaknya mengerjakan Amaliah wajib seperti halnya menunaikan sholat, namun tidak untuk Al. Ia justru yang terkadang mengingatkan orang tuanya dan bahkan membangunkan orang tuanya untuk sholat.
Hal ini mungkin ada korelasinya dengan pendidikan formal yang ia lakoni sekarang yaitu SDIT. Ditambah lagi Ayahnya sering juga membiasakan sholat berjamaah di rumah, apabila tidak memungkinkan untuk ke masjid.
Dengan kata lain, tugas Ayah Al untuk Urusan ini bukanlah hal yang berat. Karena Al tergolong ke dalam anak yang memiliki kecerdasan spiritual (sq) yang bagus untuk dapat terus di explore. Beberapa surat al quran juz 30 untuk seusianya dapat ia hafal.
Al juga tergolong anak yang murah hati di sekolah dan lingkungannya. Ia dengan sangat cepat beradaptasi dengan kawan di sekolah dan di sekitar lingkungan tempat ia tinggal. Beberapa kali terlihat ia menjadi 'kepala suku' untuk teman2 nya.
Dalam hal ini, ia tergolong ke dalam anak yang memiliki kecerdasan emosi (eq) yang bagus untuk berkembang. Sehingga kelak ia bisa memimpin di sosial masyarakat baik secara mikro maupun scope yang lebih luas.
Namun ketika Al diminta mengulang pelajaran yang telah diajarkan di sekolah, seribu alasan dan sodoran 'muka mendung' sering kali ia berikan. "ga mau belajar yang ini, " ucapnya atau "belajarnya ga mau sama ayah. "
Untuk Urusan ini (cognitive) kedua orang tuanya harus ekstra sabar dalam menggali potensi yang terpendam dalam di diri Al. Penelitian ilmiah dan Sejarah telah berulang kali menjelaskan bahwa Cognitivitas bukanlah Satu-satunya alat ukur kecerdasasan seseorang. Banyak sekali orang hebat yang justru secara cognitive tidak bisa dibanggakan, namun banyak pula orang yang hebat dengan cognitivitas yang amat bisa dibanggakan.
Namun apabila tetap ingin mengejar Cognitivitas, ada beberapa faktor yang secara empiris berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya:
1.Kejenuhan akan rutinitas
Al memiliki rentan waktu dari jam 7.00 - 14.45, apabila ia mengikuti ekskul ia baru pulang pukul 17.00 wib. Dengan rutinitas ini faktor bosan berhadapan dengan buku paket dapat menjadi salah satu faktor.
2. Kurikulum yang kembali ke K13.
Kurikulum 2013 menjadikan anak harus membawa beberapa buku paket yang berbeda setiap harinya. Jadi apabila dalam satu hari terdapat 4 mata pelajaran, maka ia harus membawa 4 buku paket, 4 buku tulis, dan 4 buku LKS. Ditambah bekal makanan dan minuman.
3. Jarak tempuh antara sekolah dan tempat tinggal.
Al tinggal di daerah Cijantung, setiap hari ia diantar ojek langganan menuju sekolahnya daerah cilangkap. Agar tidak terlambat, ia harus sudah berangkat setidaknya pukul 06.00.
4. Treatment pengajaran yang diberikan baik guru maupun orang tua.
Dengan asumsi pengajar adalah lulusan fakultas pendidikan maka diharapkan pengajaran memahami tentang humanity pengajaran. Bahwa setiap siswa adalah special, yaitu memiliki bakat, karekter, dan minat yang berbeda satu-sama lainya.
Di sisi lain, pendapat yang diterapkan di rumah apakah sudah sesuai dengan humanitas pengajaran di atas?
Beberapa faktor tersebut bisa jadi menjadi instruments dalam memahami seorang Al, yang memiliki potensi secara spiritual dan emosi, namun perlu ada usaha yang lebih untuk menggali kemampuan cognitive pada dirinya yang mungkin tertutup lumpur hitam pekat.
Seperti halnya lumpur pekat yang dahulu menyelimuti mutiara. Sebelum mutiara diproduksi dan dibudidayakan secara masal seperti sekarang Ini, dahulu mutiara harus dijemput di palung terdalam pada hamparan lautan. Dibutuhkan peralatan yang memadai untuk dapat menyelamnya.
Tidak sampai disitu, setelah bergerumul dengan rintangan yang menghadang dan berhasil mengeluarkan mutiara dari tempat yang jauh, Ia tidak lantas bisa menjadi barang yang berharga. Ia butuh ditempa, dipoles, dengan peralatan canggih dan dibentuk oleh tangan terampil.
Dibutuhkan seorang pembuat yang berpengalaman hingga ia menjadi Masterpiece.
Dan setelah menjadi Masterpiece, tentunya tidak semua orang dapat memilikinya. Hanya orang - orang pilihan yang dapat memilikinya.
Mungkin Al belumlah apa - apa saat ini, Ia butuh digali potensinya pada tempat yang tidak semua orang dapat menggalinya. Ia membutuhkan seorang yang ahli untuk menjadikannya 'orang'. 'orang ' yang memiliki integritas tinggi terhadap Tuhan dan Negaranya. Dan orang yang menjadikannya 'orang' tersebut adalah Orang Tua dan Lingkungan sekitarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar