Sabtu, 06 September 2014

Kita adalah Apa Yang Kita Pikirkan Saat Ini

Jika ada yg berpendapat di bawah sadarnya bahwa dirinya adalah orang gagal, maka sebenarnya ia secara ikhlas sedang memohon kepada Tuhanya untuk diwujudkan semua pendapat bawah sadarnya itu.

Sebab keikhlasan dapst diukur dengan keyakinan seseorang terhadap satu hal tersebut tanpa syarat.

Karena begitu tulusnya do'a tersebut sehingga ia tinggal menunggu ketetapan Tuhan yg telah ditetapkan-Nya terhadap pendapatnya tentang dirinya.

Begitupun sebaliknya, jika ia merasa dirinya merupakan makhluk yg memiliki masa depan dengan harapan yang cemerlang, maka sesungguhnya ia secara ikhlas dalam bawah sadarnya sedang berharap kepada Tuhan untuk diwujudkannya penilaian tentang dirinya itu.

"Whatever is going on in your mind is what you are attracting". Segala sesuatu yang terbesit dalam pikiran kita adalah sebuah proses menuju terwujudnya sebuah pengharapan.

"We are like magnets - like attract like. You become AND attract what you think". Kita adalah magnet hidup yang selalu menarik orang, gagasan dan situasi dalam kehidupan yang membuat keselarasan dengan hal yang dominan yang ada dalam pikiran kita. Partikel-partikel pengharapan bagaikan medan magnet yang menarik dan membentuk sebuah keabstrakan menjadi sebuah kekonkritan.

"Every thought has a frequency. Thoughts send out a magnetic energy". Setiap pikiran memiliki gelombang yang menghubungkan sebuah konsep menjadi sebuah aplikasi yang dapat terwujud sesuai keinginan.

Orang sukses sadar atau tidak selalu mengikuti dan masuk keaturan alam yang telah ditetapkan Tuhan. Sedangkan orang gagal selalu keluar dari jalur aturan alam tersebut. Dan bahkan seringkali melawan hukum alam tersebut.

Aturan alam adalah ketetapan Tuhan yang telah ada dan berlaku sama untuk semua orang sejak dulu sampai sekarang. Tidak peduli Anda tinggal di mana, warna kulit, suku, agama, usia, dan jenis kelamin, hukum ini sama untuk semua orang. Orang yang bisa selaras dengan hukum alam akan mudah untuk sukses dibandingkan mereka yang tidak mengikuti aturan dari hukum alam tersebut.

Kamis, 04 September 2014

Entahlah

Catatan Hati Seorang Muslim:

Lebaran ini banyak yg berharap dapat dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan, sementara Ramadhan tahun ini ia sia-siakan dengan sadar.

Banyak yg berlinang air mata ketika momen maaf-maafan, sementara berseteru dengan sekitar menjadi sarapan.

Mereka berduyun-duyun menghampiri tempat ibadah sholat eid, padahal mereka nyaman menyendiri di sholat wajib.

Beberapa terkesimak dengan bacaan bilal ied, sementara mereka enggan menyimak suara hati kebenaran hidup.

Kesemtaraan menjadi imam para pengikut penganut formality faith.

Kesementaraan dipaksa abadi oleh para pemuja kepalsuaan.

Kesemtaraan menjadi tujuan abadi bagi para pengabdi.

Kesementaraan membutakan hati dan rasionalitas.

Semuanya demi tujuan palsu sebuah loyalitas

M.A.S

DIKSI

DIKSI

Siang itu 1 September 204, selesai rapat Dosen dalam rangka koordinasi persiapan tahun ajaran baru 2014/2015, nampak seorang sahabat sedang berdiskusi ringan tentang gadget di ruang dosen. Percapakan hangat itu dilakukan di sofa hijau toska. Dari pintu masuk dalam dilihat empat sofa panjang dideretkan sehingga membentuk letter U. Sofa tersebut merupakan ruangan publik untuk para dosen, sehingga siapa saja dapat duduk di sana. Untuk menikmati sofa empuk tersebut, mau tidak mau terlebih dahulu menghampiri mereka yang sedang berdiskusi. Dan secara otomatis nimbrung dalam percakapan tersebut.
Handphone ente apa Gus?,”
“Ini pak handhphone rasa tablet,” sambil mengeluarkan handhpone android dengan ukuran 6.3 Inch.
“Kalo saya lebih memiliih android kayak gini (sambil menunjukan handphone android miliknya yang berukuran sekitar 5inch) dibandingkan tablet, karena tablet mah buat banci, sorry yag Gus,”ucapnya.
My diction is just terrible.“Gak papa pak, itukan pilihan. Tapi ini bukan tablet pak tapi handphone tapi rasa tablet.”
Setelah berselang pembicaraan kami tentang gadgetpun selesai dan beberapa sahabat meninggalkan sofa tersebut, rupanya pembicaraan tersebut diawali oleh keinginan dari salah-satu teman yang ingin membeli handphone baru, datanglah sahabat yang lain yang juga ingin menikmati empuknya sofa tersebut dengan membawa topik yang baru. Topik yang dibawa kali ini adalah tentang pemilu presiden yang baru saja berlangsung dan dimenagkan oleh kandidat nomer 2.
“Haloo ustadz. Gimana kabarnya neh?,”
“Baik, alhamdulillah,”
“Kayaknya sibuk ngurusin demo neh?,”
“Ah...gak, sibuk ngurusin jama’ah saya mah,”
“Menurut saya, orang yang memilih pengangguran itu adalah orang bodoh,”
“ha..ha..ha...,” semua tertawa, ada yang tertawa lepasa dan juga ada yang tertawa sinis.
Dalam satu waktu saya merasakan dua momen yang membuat saya nyengir tidak habis pikir tentang kata-kata yang digunakan dua orang tersebut dalam diskusi rigan tadi. Kenapa seorang dosen bisa memponis orang lain dengan landasan berbeda pilihan. Ponis tersebut dapat dilihat dari pilihan kata yang dipakai dalam menyampaikan pendapat mereka.
Jika diperhatikan, maka ada yang perlu digaris bawahi tentang hal yang harus diperhatikan oleh seorang komunikator dalam mengutarakan pendapat dan gagasannya kepada orang lain yaitu diksi.
Diksi merupan sebuah entry point yang diberikan oleh reciever kepada communicator. Jika diksi yang digunakan kurang tepat, maka hal tersebut merefleksikan tentang seluruh kepribadian orang tersebut.
Diksi adalah pemilihan kata dalam menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan ataupun ujaran. Diksi menggambarkan identitas penyampai informasi. Diksi dapat dipelajari melalui partisipasi aktif dengan bergaul melalui seminar maupun pelatihan dan juga dengan cara banyak membaca artikel, novel, ataupun journal-jurnal ilmiah. Dengan melakukan hal tersebut kita dapat mengkoleksi banyak opsi-opsi kata yang dapat kita jadikan sebagai identitas kita ketika kita menyamnpaikan informasi dalam bentuk tulisan maupun ucapan.
Misalkan:
“Orang itu bodoh menjadikan uang di atas segalanya dalam kehidupan.”
Menjadi
“Orang itu belum memahami cara memposisikan uang dalam kehidupan ini.”
Dengan kita memahami diksi, dengan itupula kita menjadikan diri kita lebih bermakna dan bermartabat. Sesorang dapat dengan mudah diketahui kualitasnya melalui ucapannya.