DIKSI
Siang itu 1 September 204, selesai
rapat Dosen dalam rangka koordinasi persiapan tahun ajaran baru 2014/2015, nampak
seorang sahabat sedang berdiskusi ringan tentang gadget di ruang dosen. Percapakan hangat itu dilakukan di sofa hijau
toska. Dari pintu masuk dalam dilihat empat sofa panjang dideretkan sehingga membentuk
letter U. Sofa tersebut merupakan ruangan publik untuk para dosen, sehingga
siapa saja dapat duduk di sana. Untuk menikmati sofa empuk tersebut, mau tidak
mau terlebih dahulu menghampiri mereka yang sedang berdiskusi. Dan secara
otomatis nimbrung dalam percakapan tersebut.
“Handphone ente apa Gus?,”
“Ini pak handhphone rasa tablet,”
sambil mengeluarkan handhpone android dengan ukuran 6.3 Inch.
“Kalo saya lebih memiliih android
kayak gini (sambil menunjukan handphone android miliknya yang berukuran sekitar 5inch) dibandingkan tablet,
karena tablet mah buat banci, sorry yag Gus,”ucapnya.
“Gak papa pak, itukan pilihan. Tapi ini
bukan tablet pak tapi handphone tapi rasa tablet.”
Setelah berselang pembicaraan kami
tentang gadgetpun selesai dan beberapa sahabat meninggalkan sofa tersebut, rupanya
pembicaraan tersebut diawali oleh keinginan dari salah-satu teman yang ingin
membeli handphone baru, datanglah sahabat yang lain yang juga ingin menikmati
empuknya sofa tersebut dengan membawa topik yang baru. Topik yang dibawa kali
ini adalah tentang pemilu presiden yang baru saja berlangsung dan dimenagkan
oleh kandidat nomer 2.
“Haloo ustadz. Gimana kabarnya neh?,”
“Baik, alhamdulillah,”
“Kayaknya sibuk ngurusin demo neh?,”
“Ah...gak, sibuk ngurusin jama’ah
saya mah,”
“Menurut saya, orang yang memilih
pengangguran itu adalah orang bodoh,”
“ha..ha..ha...,” semua tertawa, ada
yang tertawa lepasa dan juga ada yang tertawa sinis.
Dalam satu waktu saya merasakan dua
momen yang membuat saya nyengir tidak habis pikir tentang kata-kata yang
digunakan dua orang tersebut dalam diskusi rigan tadi. Kenapa seorang dosen
bisa memponis orang lain dengan landasan berbeda pilihan. Ponis tersebut dapat
dilihat dari pilihan kata yang dipakai dalam menyampaikan pendapat mereka.
Jika diperhatikan, maka ada yang
perlu digaris bawahi tentang hal yang harus diperhatikan oleh seorang
komunikator dalam mengutarakan pendapat dan gagasannya kepada orang lain yaitu diksi.
Diksi merupan sebuah entry point yang diberikan oleh reciever kepada communicator. Jika diksi yang digunakan kurang tepat, maka hal
tersebut merefleksikan tentang seluruh kepribadian orang tersebut.
Diksi adalah pemilihan kata dalam
menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan ataupun ujaran. Diksi menggambarkan
identitas penyampai informasi. Diksi dapat dipelajari melalui partisipasi aktif
dengan bergaul melalui seminar maupun pelatihan dan juga dengan cara banyak
membaca artikel, novel, ataupun journal-jurnal ilmiah. Dengan melakukan hal
tersebut kita dapat mengkoleksi banyak opsi-opsi kata yang dapat kita jadikan
sebagai identitas kita ketika kita menyamnpaikan informasi dalam bentuk tulisan
maupun ucapan.
Misalkan:
“Orang itu bodoh menjadikan uang di atas segalanya dalam
kehidupan.”
Menjadi
“Orang itu belum memahami cara memposisikan uang dalam
kehidupan ini.”
Dengan kita memahami diksi, dengan
itupula kita menjadikan diri kita lebih bermakna dan bermartabat. Sesorang dapat
dengan mudah diketahui kualitasnya melalui ucapannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar