Kamis, 04 September 2014

DIKSI

DIKSI

Siang itu 1 September 204, selesai rapat Dosen dalam rangka koordinasi persiapan tahun ajaran baru 2014/2015, nampak seorang sahabat sedang berdiskusi ringan tentang gadget di ruang dosen. Percapakan hangat itu dilakukan di sofa hijau toska. Dari pintu masuk dalam dilihat empat sofa panjang dideretkan sehingga membentuk letter U. Sofa tersebut merupakan ruangan publik untuk para dosen, sehingga siapa saja dapat duduk di sana. Untuk menikmati sofa empuk tersebut, mau tidak mau terlebih dahulu menghampiri mereka yang sedang berdiskusi. Dan secara otomatis nimbrung dalam percakapan tersebut.
Handphone ente apa Gus?,”
“Ini pak handhphone rasa tablet,” sambil mengeluarkan handhpone android dengan ukuran 6.3 Inch.
“Kalo saya lebih memiliih android kayak gini (sambil menunjukan handphone android miliknya yang berukuran sekitar 5inch) dibandingkan tablet, karena tablet mah buat banci, sorry yag Gus,”ucapnya.
My diction is just terrible.“Gak papa pak, itukan pilihan. Tapi ini bukan tablet pak tapi handphone tapi rasa tablet.”
Setelah berselang pembicaraan kami tentang gadgetpun selesai dan beberapa sahabat meninggalkan sofa tersebut, rupanya pembicaraan tersebut diawali oleh keinginan dari salah-satu teman yang ingin membeli handphone baru, datanglah sahabat yang lain yang juga ingin menikmati empuknya sofa tersebut dengan membawa topik yang baru. Topik yang dibawa kali ini adalah tentang pemilu presiden yang baru saja berlangsung dan dimenagkan oleh kandidat nomer 2.
“Haloo ustadz. Gimana kabarnya neh?,”
“Baik, alhamdulillah,”
“Kayaknya sibuk ngurusin demo neh?,”
“Ah...gak, sibuk ngurusin jama’ah saya mah,”
“Menurut saya, orang yang memilih pengangguran itu adalah orang bodoh,”
“ha..ha..ha...,” semua tertawa, ada yang tertawa lepasa dan juga ada yang tertawa sinis.
Dalam satu waktu saya merasakan dua momen yang membuat saya nyengir tidak habis pikir tentang kata-kata yang digunakan dua orang tersebut dalam diskusi rigan tadi. Kenapa seorang dosen bisa memponis orang lain dengan landasan berbeda pilihan. Ponis tersebut dapat dilihat dari pilihan kata yang dipakai dalam menyampaikan pendapat mereka.
Jika diperhatikan, maka ada yang perlu digaris bawahi tentang hal yang harus diperhatikan oleh seorang komunikator dalam mengutarakan pendapat dan gagasannya kepada orang lain yaitu diksi.
Diksi merupan sebuah entry point yang diberikan oleh reciever kepada communicator. Jika diksi yang digunakan kurang tepat, maka hal tersebut merefleksikan tentang seluruh kepribadian orang tersebut.
Diksi adalah pemilihan kata dalam menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan ataupun ujaran. Diksi menggambarkan identitas penyampai informasi. Diksi dapat dipelajari melalui partisipasi aktif dengan bergaul melalui seminar maupun pelatihan dan juga dengan cara banyak membaca artikel, novel, ataupun journal-jurnal ilmiah. Dengan melakukan hal tersebut kita dapat mengkoleksi banyak opsi-opsi kata yang dapat kita jadikan sebagai identitas kita ketika kita menyamnpaikan informasi dalam bentuk tulisan maupun ucapan.
Misalkan:
“Orang itu bodoh menjadikan uang di atas segalanya dalam kehidupan.”
Menjadi
“Orang itu belum memahami cara memposisikan uang dalam kehidupan ini.”
Dengan kita memahami diksi, dengan itupula kita menjadikan diri kita lebih bermakna dan bermartabat. Sesorang dapat dengan mudah diketahui kualitasnya melalui ucapannya.  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar