Kamis, 03 September 2015

Setiap kita adalah Mutiara

"Yah.. Bangun,  udah subuh," kata Al kepada Ayahnya yang kemudian bangun dan mengambil air wudhu untuk malaksanakan sholat subuh berjamaah dengan Al anaknya tersebut di masjid.

Al adalah anak tunggal dari penikahan Ayah dengan istrinya selama 10 tahun. Karena masih anak tunggal,  meskipun Al sudah disiapkan kamar sendiri,  namun setiap hari ia masih tidur bersama kedua orang tuanya.

Jika diminta orang tuanya untuk tidur di kamarnya,  ia selalu tersenyum penuh arti (takut).

Al akan berusia 9 tahun,  dengan usianya tersebut untuk beberapa orang tua merupakan sebuah tugas yang 'mendaki' untuk mengajarkan anaknya mengerjakan Amaliah wajib seperti halnya menunaikan sholat,  namun tidak untuk Al. Ia justru yang terkadang mengingatkan orang tuanya dan bahkan membangunkan orang tuanya untuk sholat.
Hal ini mungkin ada korelasinya dengan pendidikan formal yang ia lakoni sekarang yaitu SDIT. Ditambah lagi Ayahnya sering juga membiasakan sholat berjamaah di rumah,  apabila tidak memungkinkan untuk ke masjid.

Dengan kata lain,  tugas Ayah Al untuk Urusan ini bukanlah hal yang berat. Karena Al tergolong ke dalam anak yang memiliki kecerdasan spiritual (sq) yang bagus untuk dapat terus di explore. Beberapa surat al quran juz 30 untuk seusianya dapat ia hafal.

Al juga tergolong anak yang murah hati di sekolah dan lingkungannya.  Ia dengan sangat cepat beradaptasi dengan kawan di sekolah dan di sekitar lingkungan tempat ia tinggal. Beberapa kali terlihat ia menjadi 'kepala suku' untuk teman2 nya.
Dalam hal ini,  ia tergolong ke dalam anak yang memiliki kecerdasan emosi (eq) yang bagus untuk berkembang. Sehingga kelak ia bisa memimpin di sosial masyarakat baik secara mikro maupun scope yang lebih luas.

Namun ketika Al diminta mengulang pelajaran yang telah diajarkan di sekolah,  seribu alasan dan sodoran 'muka mendung' sering kali ia berikan. "ga mau belajar yang ini, " ucapnya atau "belajarnya ga mau sama ayah. "
Untuk Urusan ini (cognitive) kedua orang tuanya harus ekstra sabar dalam menggali potensi yang terpendam dalam di diri Al. Penelitian ilmiah dan Sejarah telah berulang kali menjelaskan bahwa Cognitivitas bukanlah Satu-satunya alat ukur kecerdasasan seseorang. Banyak sekali orang hebat yang justru secara cognitive tidak bisa dibanggakan,  namun banyak pula orang yang hebat dengan cognitivitas yang amat bisa dibanggakan.

Namun apabila tetap ingin mengejar Cognitivitas, ada beberapa faktor yang secara empiris berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung,  misalnya:

1.Kejenuhan akan rutinitas
Al memiliki rentan waktu dari jam 7.00 - 14.45, apabila ia mengikuti ekskul ia baru pulang pukul 17.00 wib. Dengan rutinitas ini faktor bosan berhadapan dengan buku paket dapat menjadi salah satu faktor.

2. Kurikulum yang kembali ke K13.
Kurikulum 2013 menjadikan anak harus membawa beberapa buku paket yang berbeda setiap harinya. Jadi apabila dalam satu hari terdapat 4 mata pelajaran,  maka ia harus membawa 4 buku paket,  4 buku tulis,  dan 4 buku LKS. Ditambah bekal makanan dan minuman.

3. Jarak tempuh antara sekolah dan tempat tinggal.
Al tinggal di daerah Cijantung,  setiap hari ia diantar ojek langganan menuju sekolahnya daerah cilangkap. Agar tidak terlambat, ia harus sudah berangkat setidaknya pukul 06.00.

4. Treatment pengajaran yang diberikan baik guru maupun orang tua.
Dengan asumsi pengajar adalah lulusan fakultas pendidikan maka diharapkan pengajaran memahami tentang humanity pengajaran. Bahwa setiap siswa adalah special, yaitu memiliki bakat,  karekter,  dan minat yang berbeda satu-sama lainya.
Di sisi lain, pendapat yang diterapkan di rumah apakah sudah sesuai dengan humanitas pengajaran di atas?

Beberapa faktor tersebut bisa jadi menjadi instruments dalam memahami seorang Al, yang memiliki potensi secara spiritual dan emosi,  namun perlu ada usaha yang lebih untuk menggali kemampuan cognitive pada dirinya yang mungkin tertutup lumpur hitam pekat.

Seperti halnya lumpur pekat yang dahulu menyelimuti mutiara. Sebelum mutiara diproduksi dan dibudidayakan secara masal seperti sekarang Ini,  dahulu mutiara harus dijemput di palung terdalam pada hamparan lautan. Dibutuhkan peralatan yang memadai untuk dapat menyelamnya.

Tidak sampai disitu, setelah bergerumul dengan rintangan yang menghadang dan berhasil mengeluarkan mutiara dari tempat yang jauh, Ia tidak lantas bisa menjadi barang yang berharga. Ia butuh ditempa,  dipoles, dengan peralatan canggih dan dibentuk oleh tangan terampil.
Dibutuhkan seorang pembuat yang berpengalaman hingga ia menjadi Masterpiece.

Dan setelah menjadi Masterpiece,  tentunya tidak semua orang dapat memilikinya. Hanya orang - orang pilihan yang dapat memilikinya.

Mungkin Al belumlah apa - apa saat ini,  Ia butuh digali potensinya pada tempat yang tidak semua orang dapat menggalinya. Ia membutuhkan seorang yang ahli untuk menjadikannya 'orang'. 'orang ' yang memiliki integritas tinggi terhadap Tuhan dan Negaranya. Dan orang yang menjadikannya 'orang' tersebut adalah Orang Tua dan Lingkungan sekitarnya.

Kamis, 20 Agustus 2015

Orang Baik

Biarlah raungan suara memvonis ku dengan kehinaan,  karena manusia mulia sungguh sudah tergantikan seiring ditemukannya batu akik bertajuk mulia.

Biarlah dentuman suara menghantamku dengan kisah kelam yang disebarkan ketujuh penjuru, karena pada dasarnya manusia baik telah meninggal seiring Adam terasingkan.

Tak ada manusia mulia, yang ada adalah kemuliaan yang terafiliasi dengan kefanaan bertajuk raga.

Tak ada manusia baik,  yang ada adalah kebaikan yang terkontaminasi oleh kefanaan bernama manusia.

Manusia adalah sebuah relativitas kefanaan yang seharusnya cenderung mulia dan berlaku baik.

Jika ada manusia yang cenderung berlaku buruk,  maka hendaknya ada koreksi terhadap label manusia yang disematkan kepadanya.

Jika ada manusia nyaman berkawan dengan keburukan,  maka kibarkanlah bendera setengah tiang sebagai simbol kedukaan dan kemudian menancapkan bendera kuning Sebaiknya simbol kematian.

Tak perlulah mengibarkan bendera perang sebagai simbol perlawanan,  karena demikian akan dianggap sebagai tindakan so-soan.

Manusia baik adalah khayalan
Manusia baik adalah hiburan
Manusia baik adalah slogan

Manusia buruk seharusnya sebuah mimpi
Manusia buruk seharusnya hanya sebuah peran
Manusia buruk harusnya sebuah kecelakaan sosial

Baik dan buruk adalah sebuah keniscayaan
Baik dan buruk adalah sebuah konsistensi kehidupan
Baik dan buruk adalah keabadian

Rabu, 19 Agustus 2015

AKU, KAMU, KITA

Jam 5 merupakan waktu yang amat menggembirakan bagi sebagian atau mungkin seluruh karyawan yang ada di kantor swasta. Karena mereka dapat meninggalkan kesibukan mereka sejenak guna kembali ke keluarga mereka masing-masing atau juga mengunjungi tempat-tempat yang dapat menghilangkan penat setelah seharin bekerja.

Namun berbeda dengan pemilik pernyataan. Jam 5 merupakan awal kesendirian. Ketika notabene banyak orang merindukan keluarga mereka, sementara pemilik pernyataan gelisah dalam kesendirian.
‘Aku’ adalah pronoun, sebuah kata ganti yang merefleksikan sebuah posisi dan jati diri. Dalam penggunaannya kata 'Aku' selalu digunakan oleh Tuhan di dalam Kitab Suci sebagai kata ganti tunggal menyebutkan diri-Nya. Tuhan dalam Agama menggunakan kata 'aku' karena status Tuhan lebih tinggi dibandingkan dengan umat-Nya. Dalam penulisannya kata 'aku' untuk "Tuhan" yang huruf 'A'-nya selalu ditulis dengan huruf besar, baik di depan maupun di tengah kalimat.
kata ‘aku’ merupakan sebuah pernyataan status dalam sebuah strata vertical maupun social.

'kamu' sibuk meninggalkan 'aku' dalam kesendirian, menjejali jalan dengan atribut kelelahan untuk kembali merasakan malam. Kamu adalah sebuah pronoun jamak berupa orang yg diajak bicara atau yg disapa dalam ragam keakraban. Kamu adalah pronoun jamak yang biasanya terjebak dalam sebuah rutinitas. Cukup banyak jumlah 'kamu', seolah termarjinalkan atas sistem yang penuh dengan keangkuhan. Sistem yang pada kenyataanya berorientasi kepada ke 'aku-an'.

Dalam kejauhan, 'kita' berpapasan dengan keduanya. Tergopoh-gopoh untuk memenuhi sebuah omongan. Agar 'aku' dan 'kamu' tidak memperolok-oloknya karena terlanjur mengutarakan pesan.

Aku sebagai pemilik ritme kehidupan dianggap atau menganggap jejak langkah adalah sebuah jentikan yang dapat dibunyikan kapanpun aku menginginkan 

Kamu sebagai pelaksana ritme kehidupan menganggap jejak langkah terlalu terjal dan cenderung melabrak Keadilan. 

Antara aku dan kamu sering kali memproduksi tapal batas yang tak berkesudahan. Sehingga mengoyak keharusan yang sering kali menjadi keniscayaan. 

Sebenarnya ada kompromi yang dapat menjadi jembatan antara aku dan kamu. Sehingga ritme dan jejak langkah menjadi seimbang. Kompromi tersebut bernama kita, ya kita yang dapat bergandengan tanpa perlu ada penapian Keadilan dan kesewenangan bunyi jentikan. Kita merefleksikan kebersamaan lintas batas aku dan kamu. Kita mengikat keharusan dalam kebersamaan. Kita adalah aku dan kamu. 

Rabu, 11 Februari 2015

SPONGE CRUCH



Novel ini berkisah tentang cerita nyata seorang Salman. Seorang bocah kampung yang lahir dan besar pinggir Jakarta. Kesulitan ekonomi menjadi warna dalam keseharian hidupnya. Bahkan ketika ia menjadi sosok dewasapun keberuntungan belum juga menghampiri hidupnya.
Hingga suatu ketika petualangan hidupnya dipertemukan Tuhan dengan Ipeh. Jodoh  yang bukan seorang bidadari yang siap dijemput dengan kereta kencana yang ditunggangi seorang pangeran tampan. Namun jodoh yang mau ia gandeng berjalan kaki sampai ke istana.
Cinta yang merupakan sebuah kegilaan sementara yang hanya dapat disembuhkan dengan pernikahan. Sebuah pernikahan yang mampu membawa Salman ke dalam sebuah perubahan hidup kearah yang lebih baik secara kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan keimanan.

Rabu, 21 Januari 2015

PRIUK BASI


PRIUK BASI PENUH MANFAAT

Oleh: M. Agus Suriadi (MAS)


Memang tak akan ada yang dapat menyangkal tentang peran sebuah benda yang bernama uang.
Kian lama ia semakin eksis dalam kehidupan.
Hal ini semata-mata karena kehidupan merawatnya dengan keuletan.

Karyawan  pagi dan sore menjejali jalanan dengan kemacetan demi uang
Bahkan karyawan di luar kota memberikan slogan jam 4 atau terlambat, semua untuk uang.
Pegawai Negara mengakali aturan demi uang.
Pembuat aturan membahas aturan, dengan uang.

Uang menjadi acuan kemajuan sebuah jaman.
Uang menjadi magnet perubahan sebuah sikap kehidupan.

Istri merasa senang dinafkahkan suami dengan banyak uang.
Istri merasa bimbang mengurus kehidupan dengan sedikit uang.

Sangkalah semuanya itu, mungkin penyangkal adalah pelupa akan kehidupan.
Sangkalah semuanya itu, mungkin sangkalan hanya agar terdengar bijak bagi para konstituen.

Uang  telah menjelma menjadi tujuan berkehidupan.
Sementara nilai-nilai kian terpojok sebagai  pemilik sah tujuan kehidupan.
Nilai-nilai teronggok lusuh tak berdaya berkalung sarang laba-laba di pojokan.

Sesekali nilai dilirik untuk menghiasai seremonial kefanaan.
Sesekali penggiat kefanaan menggunakanya untuk sebuah urusan bernama kepentingan.

Namun nilai-nilai tidak berkecil hati, walaupun lusuh dan berkalung sarang laba-laba, ia masih tetap ada peminatnya.

Para peminat yang tidak menggunakannya sebagai pelengkap sebuah sermonial.
Para peminat yang tidak lelah untuk terus membersihkan lusuh dan sarang laba-laba pada nilai-nilai.

Peminat membalikan uang sebagai tujuan, mereka hanya menghormatinya sebagai sebuah keniscayaan.

Beragam macam jenis peminat, ada yang bersuara lantang sebagai pengaku perwakilan penjaga gawang dari nilai-nilai, meskipun yang diwakili merasa tidak terwakilkan.
Ada yang bersuara lembut namun penuh kepastian, meskipun ia sering kali terabaikan.

Para peminat memang bukan penjaga gawang keimanan kehidupan lain, ia hanyalah penjaga keimanan untuk diri dan handai taulan yang berkenan.
Nilai-nilai dititipkan kepada kehidupan pilihan untuk disampaikan guna menjadi sebuah keharusan sejak dilahirkan, walaupun terkadang penolakan sering kali tak kunjung padam
Namun nilai-nilai tidak berkenan untuk dipaksakan, karena sesungguhnya ia telah bersarang di lubuk hati kehidupan sejak dihembuskan.

Nilai-nilai sejatinya akan menjadi pelabuhan terakhir kehidupan dengan jalan dan pola yang beragam.
Ia tak akan pernah bisa di nafikan dan terbantahkan, seperti halnya tujuan pana kehidupan para yang sering kali teralfakan .