Kamis, 09 Oktober 2014

Tuhan abstrak vs Tuhan kongkrit

Tuhan Abstrak vs Tuhan Kongkrit

Jika ada yang bertanya tentang kepercayaan seseorang akan esensi Tuhan kepada masyarakat Indonesia, maka niscaya mereka akan menjawab percaya kepada adanya Tuhan.  Namun jika ditanya lagi tentang bagaimana cara mereka mendeskripsikan Tuhan, maka mereka akan menjawab “Tuhan tidak dapat dideskripsikan dalam bentuk apapun apalagi dengan bentuk yang kongkrit”, “namun  esensi Tuhan dapat dilihat melalui hasil ciptaannya.”  Dengan demikian Tuhan merupakan sebuah esensi yang dipercayai melalui ciptaannya yang ada di jagad raya ini.

Bicara tentang Tuhan sebagai kategori  benda, maka tentunya Tuhan tidak akan bisa dimasukan kesalah-satunya. mungkin apabila dipaksakan untuk dikategorikan, mungkin Tuhan bisa masuk kedua-duanya yaitu benda kongkrit yang abstrak. Karena sifat Tuhan berbeda degan manusia yang tentunya masuk kategori benda kongrit.

Manusia sebagai benda kongrit tentunya akan mencari dan merasa nyaman dengan kekongkritan. Karena teori dasar menyatakan bahwa seseorang akan merasa nyaman dengan orang  yang memiliki kesamaan pola (baik itu secara karakter maupun secara esensi). Artinya karena manusia adalah benda kongrit, maka ia akan merasa nyaman dengan hal yang kongkrit juga.

Konsep tentang kenyamanan (comfort) sangat sulit untuk didefinisikan karena lebih merupakan penilaian responsif individu (Oborne, 1995). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nyaman adalah segar; sehat sedangkan kenyamanan adalah keadaan nyaman; kesegaran; kesejukan. Kolcaba (2003) menjelaskan bahwa kenyamaan sebagai suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang bersifat individual dan holistik. Dengan terpenuhinya kenyamanan dapat menyebakan perasaan sejahtera pada diri individu tersebut.

Kenyamanan dan perasaan nyaman adalah penilaian komprehensif seseorang terhadap lingkungannya. Manusia menilai kondisi lingkungan berdasarkan rangsangan yang masuk ke dalam dirinya melalui keenam indera melalui syaraf dan dicerna oleh otak untuk dinilai. Dalam hal ini yang terlibat tidak hanya masalah fisik biologis, namun juga perasaan. Suara, cahaya, bau, suhu dan lain-lain rangsangan ditangkap sekaligus, lalu diolah oleh otak. Kemudian otak akan memberikan penilaian relatif apakah kondisi itu nyaman atau tidak. Ketidaknyamanan di satu faktor dapat ditutupi oleh faktor lain (Satwiko, 2009).

Sanders dan McCormick (1993) menggambarkan konsep kenyamanan bahwa kenyamanan merupakan suatu kondisi perasaan dan sangat tergantung pada orang yang mengalami situasi tersebut. Kita tidak dapat mengetahui tingkat kenyamanan yang dirasakan orang lain secara langsung atau dengan observasi melainkan harus menanyakan langsung pada orang tersebut mengenai seberapa nyaman diri mereka, biasanya dengan menggunakan istilah-istilah seperti agak tidak nyaman, mengganggu, sangat tidak nyaman, atau mengkhawatirkan.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kenyamanan adalah suatu kontinum perasaan dari paling nyaman sampai dengan paling tidak nyaman yang dinilai berdasarkan persepsi masing-masing individu pada suatu hal yang dimana nyaman pada individu tertentu mungkin berbeda dengan individu lainnya.
Dalam hal ke-Tuhanan, nampaknya manusia lebih tertarik ataupun lebih takut kepada Tuhan yang kongkrit dibandingkan ketertarikan dan ketakutan mereka dengan Tuhan kongkrit yang abstrak.

Seorang yang masing single yang telah bersungguh-sungguh bekerja karena Tuhannya, akan berlipa kesunguhannya dari konsep bersungguh-sungguh yang standar apabila orang yang ia cintai memberikan limit untuk menikahinya. kekongkritannya bisa berupa sebuah kekhawatiran wanita pujaanya itu nantinya diambil orang lain.

Begitupun seorang wanita yang telah sempurna menghias dirinya dengan make-up yang super mahal, akan amat bisa menunda wudhunya (mungkin jika perlu bertanyamum saja) untuk melakukan sholat wajib. Ketimbang ia harus merelakan dandanan sempurnya dengan mak-up mahalnya itu luntur akibat basuhan air wudhu.

Partai-partai yang mengaku mengusung Islam sebagai azas mereka, lebih takut kehilangan kursi pimpinan mereka dibandingkan menegakan nilai kongkrit yang abstrak berupa kejuhudan dunia untuk supermasi nilai yang lebih tinggi yaitu Tuhan.

Penomena ketertarikan dan ketakutan manusia terhadap Tuhan yang lebih kongkrit (menurut mereka) merupakan hal yang perlu disikapi dengan peningkatan pemahaman teologi manusia terhadap Tuhan kongkrit yang abstrak. Sebab hal ini akan mereposisi pandangan manusia tentang kehidupan mereka di dunia ini menjadi lebih baik kearah kemulyaan Tuhan. (MAS)


Sabtu, 06 September 2014

Kita adalah Apa Yang Kita Pikirkan Saat Ini

Jika ada yg berpendapat di bawah sadarnya bahwa dirinya adalah orang gagal, maka sebenarnya ia secara ikhlas sedang memohon kepada Tuhanya untuk diwujudkan semua pendapat bawah sadarnya itu.

Sebab keikhlasan dapst diukur dengan keyakinan seseorang terhadap satu hal tersebut tanpa syarat.

Karena begitu tulusnya do'a tersebut sehingga ia tinggal menunggu ketetapan Tuhan yg telah ditetapkan-Nya terhadap pendapatnya tentang dirinya.

Begitupun sebaliknya, jika ia merasa dirinya merupakan makhluk yg memiliki masa depan dengan harapan yang cemerlang, maka sesungguhnya ia secara ikhlas dalam bawah sadarnya sedang berharap kepada Tuhan untuk diwujudkannya penilaian tentang dirinya itu.

"Whatever is going on in your mind is what you are attracting". Segala sesuatu yang terbesit dalam pikiran kita adalah sebuah proses menuju terwujudnya sebuah pengharapan.

"We are like magnets - like attract like. You become AND attract what you think". Kita adalah magnet hidup yang selalu menarik orang, gagasan dan situasi dalam kehidupan yang membuat keselarasan dengan hal yang dominan yang ada dalam pikiran kita. Partikel-partikel pengharapan bagaikan medan magnet yang menarik dan membentuk sebuah keabstrakan menjadi sebuah kekonkritan.

"Every thought has a frequency. Thoughts send out a magnetic energy". Setiap pikiran memiliki gelombang yang menghubungkan sebuah konsep menjadi sebuah aplikasi yang dapat terwujud sesuai keinginan.

Orang sukses sadar atau tidak selalu mengikuti dan masuk keaturan alam yang telah ditetapkan Tuhan. Sedangkan orang gagal selalu keluar dari jalur aturan alam tersebut. Dan bahkan seringkali melawan hukum alam tersebut.

Aturan alam adalah ketetapan Tuhan yang telah ada dan berlaku sama untuk semua orang sejak dulu sampai sekarang. Tidak peduli Anda tinggal di mana, warna kulit, suku, agama, usia, dan jenis kelamin, hukum ini sama untuk semua orang. Orang yang bisa selaras dengan hukum alam akan mudah untuk sukses dibandingkan mereka yang tidak mengikuti aturan dari hukum alam tersebut.

Kamis, 04 September 2014

Entahlah

Catatan Hati Seorang Muslim:

Lebaran ini banyak yg berharap dapat dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan, sementara Ramadhan tahun ini ia sia-siakan dengan sadar.

Banyak yg berlinang air mata ketika momen maaf-maafan, sementara berseteru dengan sekitar menjadi sarapan.

Mereka berduyun-duyun menghampiri tempat ibadah sholat eid, padahal mereka nyaman menyendiri di sholat wajib.

Beberapa terkesimak dengan bacaan bilal ied, sementara mereka enggan menyimak suara hati kebenaran hidup.

Kesemtaraan menjadi imam para pengikut penganut formality faith.

Kesementaraan dipaksa abadi oleh para pemuja kepalsuaan.

Kesemtaraan menjadi tujuan abadi bagi para pengabdi.

Kesementaraan membutakan hati dan rasionalitas.

Semuanya demi tujuan palsu sebuah loyalitas

M.A.S

DIKSI

DIKSI

Siang itu 1 September 204, selesai rapat Dosen dalam rangka koordinasi persiapan tahun ajaran baru 2014/2015, nampak seorang sahabat sedang berdiskusi ringan tentang gadget di ruang dosen. Percapakan hangat itu dilakukan di sofa hijau toska. Dari pintu masuk dalam dilihat empat sofa panjang dideretkan sehingga membentuk letter U. Sofa tersebut merupakan ruangan publik untuk para dosen, sehingga siapa saja dapat duduk di sana. Untuk menikmati sofa empuk tersebut, mau tidak mau terlebih dahulu menghampiri mereka yang sedang berdiskusi. Dan secara otomatis nimbrung dalam percakapan tersebut.
Handphone ente apa Gus?,”
“Ini pak handhphone rasa tablet,” sambil mengeluarkan handhpone android dengan ukuran 6.3 Inch.
“Kalo saya lebih memiliih android kayak gini (sambil menunjukan handphone android miliknya yang berukuran sekitar 5inch) dibandingkan tablet, karena tablet mah buat banci, sorry yag Gus,”ucapnya.
My diction is just terrible.“Gak papa pak, itukan pilihan. Tapi ini bukan tablet pak tapi handphone tapi rasa tablet.”
Setelah berselang pembicaraan kami tentang gadgetpun selesai dan beberapa sahabat meninggalkan sofa tersebut, rupanya pembicaraan tersebut diawali oleh keinginan dari salah-satu teman yang ingin membeli handphone baru, datanglah sahabat yang lain yang juga ingin menikmati empuknya sofa tersebut dengan membawa topik yang baru. Topik yang dibawa kali ini adalah tentang pemilu presiden yang baru saja berlangsung dan dimenagkan oleh kandidat nomer 2.
“Haloo ustadz. Gimana kabarnya neh?,”
“Baik, alhamdulillah,”
“Kayaknya sibuk ngurusin demo neh?,”
“Ah...gak, sibuk ngurusin jama’ah saya mah,”
“Menurut saya, orang yang memilih pengangguran itu adalah orang bodoh,”
“ha..ha..ha...,” semua tertawa, ada yang tertawa lepasa dan juga ada yang tertawa sinis.
Dalam satu waktu saya merasakan dua momen yang membuat saya nyengir tidak habis pikir tentang kata-kata yang digunakan dua orang tersebut dalam diskusi rigan tadi. Kenapa seorang dosen bisa memponis orang lain dengan landasan berbeda pilihan. Ponis tersebut dapat dilihat dari pilihan kata yang dipakai dalam menyampaikan pendapat mereka.
Jika diperhatikan, maka ada yang perlu digaris bawahi tentang hal yang harus diperhatikan oleh seorang komunikator dalam mengutarakan pendapat dan gagasannya kepada orang lain yaitu diksi.
Diksi merupan sebuah entry point yang diberikan oleh reciever kepada communicator. Jika diksi yang digunakan kurang tepat, maka hal tersebut merefleksikan tentang seluruh kepribadian orang tersebut.
Diksi adalah pemilihan kata dalam menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan ataupun ujaran. Diksi menggambarkan identitas penyampai informasi. Diksi dapat dipelajari melalui partisipasi aktif dengan bergaul melalui seminar maupun pelatihan dan juga dengan cara banyak membaca artikel, novel, ataupun journal-jurnal ilmiah. Dengan melakukan hal tersebut kita dapat mengkoleksi banyak opsi-opsi kata yang dapat kita jadikan sebagai identitas kita ketika kita menyamnpaikan informasi dalam bentuk tulisan maupun ucapan.
Misalkan:
“Orang itu bodoh menjadikan uang di atas segalanya dalam kehidupan.”
Menjadi
“Orang itu belum memahami cara memposisikan uang dalam kehidupan ini.”
Dengan kita memahami diksi, dengan itupula kita menjadikan diri kita lebih bermakna dan bermartabat. Sesorang dapat dengan mudah diketahui kualitasnya melalui ucapannya.  


Rabu, 09 Juli 2014

Negeri Ujung Genting

Jakarta 10 Juli 2014

Negeri Ujung Genting

Awalnya negeri ini amat sangat bersuka cita menyambut datang hajatan besar bernama “Pemilu”. Hajatan besar yang dihadiri oleh seluruh elemen masyarakat yang telah berusia 17 tahun atau sudah pernah kawin baik laki-laki maupun perempuan diperbolehkan menghadirinya. Batas usia tersebut tertuang dalam Pasal 27 ayat (1) UU Pilpres dan Pasal 19 ayat (1) UU Pemilu Legislatif yang mengatur batas usia yang mempunyai hak untuk memilih dalam pemilihan umum.

Berbeda dengan hajatan-hajatan lainya, dalam hajatan ini pengunjung yang hadir harus memilih salah-satu pengantin sebagai orang yang mewakilinya untuk dapat memberikan kehidupan yang bertambah baik nantinya bagi para pengunjung.
Hajatan tersebut bukanlah hal yang baru buat negeri ini, sebab negeri ini menyelenggarakan hajatan besar tersebut pada tahun 1955. Hajatan pertama negeri ini sering dikatakan sebagai pemilu Indonesia yang paling demokratis.
Hajatan tahun 1955 ini dilaksanakan saat keamanan negara masih kurang kondusif; beberapa daerah dirundung kekacauan oleh DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) khususnya pimpinan Kartosuwiryo. Dalam keadaan seperti ini, anggota angkatan bersenjata dan polisi juga memilih. Mereka yang bertugas di daerah rawan digilir datang ke tempat pemilihan. Pemilu akhirnya pun berlangsung aman.
Hajatan ini bertujuan untuk memilih anggota-anggota MPR dan Konstituante. Jumlah kursi MPR yang diperebutkan berjumlah 260, sedangkan kursi Konstituante berjumlah 520 (dua kali lipat kursi MPR) ditambah 14 wakil golongan minoritas yang diangkat pemerintah.
Hajatan ini dipersiapkan di bawah pemerintahan Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo. Namun, Ali Sastroamidjojo mengundurkan diri dan pada saat pemungutan suara, kepala pemerintahan telah dipegang oleh Perdana Menteri Burhanuddin Harahap.
Dalam kondisi tersebut negeri ini mampu tegak berdiri guna membangun peradaban berwawasan kehidupan berkesinambungan dan berkeseimbangan antara manusia dengan manusia serta manusia dengan Tuhan.
Hari ini Rabu, 09 Juli 2014 hajatan untuk kesekian kalinya itu menggelitik banyak anak negeri untuk menghadiri hajatan besar ini. Kurang lebih 75% anak negeri turut hadir dalam hajatan ini.
Berbeda dengan tahun 1955, hajatan kali ini jauh lebih meriah. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan manusia,  maka munculah metode  yang mampu mengukur kemenangan para pengantin yang nantinya diharapkan mampu mengatur rumah tangga ini secara baik dalam waktu yang lebih cepat.  
Metode ini bertujuan agar pihak-pihak yang berkepentingan memiliki data pembanding yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kemungkinan kecurangan yang terjadi pada proses tabulasi suara. Dengan hitung cepat, hasil hajatan dapat diketahui dengan cepat pada hari yang sama ketika hajatan diadakan. Jauh lebih cepat dibandingkan hasil resmi yang dikeluarkan oleh panitia hajatan yang memakan waktu lebih kurang dua minggu. Selain itu dengan hitung cepat biaya yang dibutuhkan jauh lebih hemat daripada melakukan penghitungan secara keseluruhan.

Metode yang awalnya menjadi alat yang mampu memberikan kemaslahatan bagi manusia, berubah angker menjadi stigma kotor bagi para pengunjung. Para pengantin yang seharusny menyambut para tama dengan senyum, berubah menajadi moster yang siap menerkam para tamu dan berpotensi menghancurkan tempat yang dititipkan nenek moyang mereka sebagi rumah tangga yang diharapkan mereka mampu mewariskannya kelak dengan kondisi yang lebih baik.

Para pengantin saling bertikai memperebutkan legitimasi dengan metode tersebut. Para hadirin yang lebih dewasa mampu menjadi penengah satu sama lainya. Namu di sisi lainya, para hadirin yang masih berpikir dengan logika namun bertindak dengan emosi saling bergumul satu sama lain.   
Oleh karena itu di negeri ujung genting ini marilah kita:

1.      Menegakan rasionalitas;
2.      Menerapkan philosopi terjun bebas;
3.      Alihkan dengan fokus yang lebih bermartabat.

Selasa, 08 Juli 2014

SEBAIK-BAIKNYA KAMU ADALAH PENYABAR

Pada kesempatan ini penulis mencoba menuangkan hasil pengamatanya sebagai seorang pengendara yang menghabiskan waktu berjam-jam di atas kendaraanya.

Secara empirik “kesabaran” telah memperlihatkan kepada manusia betapa “ia” mampu membawa seseorang berada di tempat yang lebih tinggi derajatnya diantara yang lainya. Derajat tersebut memiliki banyak versi dalam kehidupan manusia. Ada yang berupa materi ataupun kedudukan dalam hirarki sosial.
Ketika seseorang melakukan tilawah, ia akan menemukan nilai-nilai kesabaran yang dipaparkan secara gamblang di dalam kitab al-qur’an. Nialai-nilai yang dijelaskan antaralain  bahwa, sebaiknya manusi bersabar dalam mengarungi kehidupan ini. Karena hal itu sangat indah disukai oleh Tuhan.

Dalam mempraktekan nilai kesabaran yang disukai Tuhan tersebut, bukanlah sebuah kemudahan. Karena dalam beberapa kasus sosial, ketika manusia berada dalam kerumunan masa, logikanya terkikis oleh lingkungan yang mengakibatkan sering dijumpai pertengkaran yang sebenarnya diletup oleh hal-hal yang sepele.

Hasil beberapa pengamatan, penulis mengamati perilaku berkendara yang banyak kehilangan kontrol logikanya terhadap emosi yang mengambil alih kehidupannya. Bawah sadarnya tidak mampu membalikan logika untuk berkuasa atas perasaan yang mendominasi prilaku pada saat itu. Mari kita ambil contoh pada saat pengendara berada di lintasan Traffic light. 60% pengendara akan membunyikan horn kendaraanya ketika angka penghitung Traffic light tersebut berada diangka 10 menuju kuning kemudian hijau. Bawah sadarnya sebenarnya mengakui bahwa tindakan tersebut sebenarnya tidak tepat, namun prilaku tersebut tercipta disebabkan adanya kondisi perilaku kolektif dalam berkendara yang sebenarnya kurang mencerminkan perilaku individu.

Perilaku kolektif yang berupa gerakan sosial, seringkali muncul ketika dalam interaksi sosial itu terjadi situasi yang tidak terstruktur, ambigious (ketaksaan/ membingungkan), dan tidak stabil. Reicher & Potter (1985) mengidentifikasi adanya lima tipe kesalahan mendasar dalam psikologi tentang kerumunan (perilaku massa) di masa lalu dan masa kini. Kesalahan-kesalahan itu, meliputi yaitu: (1) abstraksi tentang episode kerumunan bersumber dari konflik antar-kelompok, (2) kegagalan untuk menjelaskan proses dinamikanya, (3) terlalu dibesar-besarkannya anonimitas keanggotaannya, (4) kegagalan memahami motif anggota kerumunan, dan (5) selalu menekankan pada aspek negatif dari kerumunan.

Reicher (1987), Reicher & Potter (1985) selama ini melihat adanya dua (2) bentuk bias dalam memandang teori kerumunan (crowds) yaitu bias politik dan bias perspektif. Bias politik terjadi karena teori kerumunan disusun sebagai usaha mempertahankan tatanan sosial dari mob dan tindakan kerumunan selalu dipandang sebagai konflik sosial. Sementara itu bias perspektif terjadi karena para ahli hanya berperan sebagai orang luar (outsider) yang hanya mengamati masalah tersebut. Akibatnya, terjadi kesalahan dalam memandang tindakan kerumunan secara objektif.

Dalam hal ini, penulis berperan sebagai insider. Karena selain mengamati, penulis juga menjalankan rutinitasnya dari rumah ke tempat aktivitasnya sebagai pengendara. Jadi perilaku kolektif yang dialaminya mencerminkan data sesungguhnya yang diambil secara random ketika ia berhenti dan berdialog dengan beberapa pengendara lainya. Hasilnya menunjukan bahwa memang perilaku kolektif menjungkir balikan logika individu yang sesungguhnya. Yaitu jiwa-jiwa penyabar dan berkepribadian memaafkan. Namun adapula yang memang secara individu memiliki sikap yang apabila diukur melalui pembicaraan antara penulis dengan pengendara, ditemukan kurang dari 3% dari 25 pengendara yang memiliki karakter kurang penyabar.

Dari hal-hal diatas dapat disimpulkan bahwa, perilaku kolektif tentang kesabaran di jalan tidak seutuhnya mencerminkan individu yang kurang penyabar. Banyak orang-orang penyabar yang berubah menjadi berbeda ketika ia menjadi rider di jalanan. Ditambah lagi law inforcement yang belum baik dan tauladan dari anggota aparatur pemerintah juga berdampak pada perilaku kolektif dalam masyarakat.


Minggu, 05 Januari 2014

Apologize

Pride berasal dari bahasa latin yaitu 

fastosus yang berarti harga diri. setiap manusia memiliki harga diri. Harga diri merupakan sebuah border yang tidak boleh dilanggar oleh individu lain. Sebuah kerusuhan besar besar beberapa kali terjadi disebabkan oleh hal yang sangat kecil, namun hal kecil tersebut merupakan sebuah bentuk pelanggaran border yang telah dilakukan oleh individu atau kelompok lain. 


 


Harga diri merupakan sebuah hal yang sangat unik. seseorang harus menyelam kedalam palung permasalah terdalam untuk memahami keunikan ini. Harga diri memiliki banyak instrumen. Sedih, kecewa, masa lalu, senang, dan segenap tentang rasa meruapakan instrumen yang tidak dapat dipisahkan dari harga diri. Oleh karena itu apabila ada individu ataupun kelompok yang ingin melewati border tersebut harus memiliki kompetensi pendekatan dan metode yang sudah sering kali teruji secara empirik lewat kasus-kasus yang bervariasi dan dinamis dalam kehidupannya ketika ia ingin mendapatka sebuah tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. 


 


Berikut beberapa empirisme yang dapat dijadikan bahan perumusan pendekatan ketika seseorang ingin melewati border harga diri orang lain. 

Pendekatan/ metode/ cara yang ia terapkan sebaiknya tanpa adanya embel-embel pemikiran, excuse, maupun pertimbangan mental block yang dimiliki individu yang ingin menerapkan pendekatan ini. Karena apabila individu yang ingin menerapkan pendekatan ini tidaka akan mendapatkan tujuan yang telah ditetapkan secara maksimal. Bahkan mungkin akan mendapatkan kegagalan. Berikut beberapa empirisme yang dapaat dijadikan sebuah pertimbangan ketika seseorang ingin mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang telah ditetapkannya:


 


1. Lebih Tua


Bagi masyarakat timur yang menjunjung tinggi hirarki senioritas dalam berbagai aspek,  umur dapat menjadi sebuah border bagi sebuah individu dalam melewati border individu lain. dalam aspek ini seseorang akan cenderung merasa "gua lebih tua, masa gw yang minta maaf". atau "gua lebih tua, masa kaga ada hormat-hormatnya tuh orang". Dalam kontek ini usia merupakah yang harus diperhatikan oleh individu lain, tanpa memandang tingkat pendidikan maupun pengetahuan. Yang penting orang itu lebih tua titik.


 


2. Pendidikan


Dalam kontek ini yang dimaksud dengan border pendidikan adalah gelar atau title akademisi. Beberapa Dosen senior di Perguruan Tinggi merasa sangat dihormati ketika individu lain memanggilnya dengan panggilan "Prof." atau seorang dosen bahasa akan nyaman ketika ia dipanggil dengan sebutan "Mr., Ms.,sense" atau "Ustadz". Dengan mengetahui background pendidikan seseorang individu yang ingin melewati border individu tersebut dapat memahami tentang pendekatan yang harusnya dia terapkan untuk melewati border


 


3. Kekayaan


Kekayaan atau wealthy merupakan sebuah simbol keberhasilan individu diseluruh penjuru dunia ini. Ketia ada seorang pengendara sepeda motor vespa butut dan seorang pengendara lamborgini lewat di depan kita, mana yang lebih dapat respon dan apresiasi oleh anda sebagai individu?" ya tentu pengendara lamborgini yang anda hormati". padahal anda merespon itu secara spontan, tanpa ada perencanaan terlebih dahulu. 


 


4. Kedudukan


Seorang yang berkarir di pemerintahan dan memiliki tingkat kedudukan eselon I, akan cenderung suka apabila ada orang yang bepapasan dan kemudian orang itu menunduk dalam rangka hormat kepadanya. Dibandingkan ia berpasan dengan orang lain dan orang tersebut hanya memberikan salam dan berjabat tangan dengan posisi badan tegak sempurna. 


 


5.  Keturunan/ Darah


Walaupun peodalisme merupakan hal yang berdampak kurang baik bagi tercitanya demokrasi dan harmonisasi kehidupan, namun peodalisme merupakan hal yang tidak bisa dianggap telah musnah. Banyak orang yang merasa leibh tinggi martabatnya dibandingkan orang lain oleh karena ia bergelar Ratu, Raden, Tubagus, Andi, Kanjeng, dan lain-lain.